Temukan Lagi Sosok Indonesia

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/11/humaniora/2874471.htm
=========================

Jakarta, Kompas – Meski telah 61 tahun Indonesia merdeka, pembicaraan
mengenai nasionalisme jarang dimulai dari akar kebangsaan. Padahal,
untuk menemukan kembali sosok Indonesia—di tengah kekhawatiran
lunturnya rasa kebangsaan—upaya kembali ke akar, yakni keberagaman,
sangat perlu digunakan sebagai pijakan.

“Indonesia merupakan negara bangsa dan merupakan bangsa majemuk
terbesar di dunia dan rawan perpecahan. Tidak hanya sebatas etnik
yang jumlahnya mencapai 400 suku, tetapi juga agama dan ras,” kata
Achmad Fedyani Saifuddin, antropolog dari Universitas Indonesia, di
Jakarta, Kamis (10/8).

Ia dimintai pandangan terkait upaya “menemukan kembali” Indonesia
yang kini dinilai oleh banyak kalangan mulai kehilangan jati dirinya
sebagai bangsa.

Benedict Anderson menyebut Indonesia sebagai imagine communities
dengan unsur-unsur pembentuk yang saling tidak mendengar dan tidak
mengenal. Namun, kemudian ia disatukan oleh cita-cita, harapan, dan
sentimen. Muncul rasa kebangsaan, biasanya juga disebut nasionalisme,
yang berdimensi sensoris.

Dimensi sensoris itu ibarat selimut yang menaungi dan berbagai unsur
atau kelompok masyarakat dikendalikan dengan kuat oleh negara. Ketika
zaman berubah, selubung itu ikut melemah. Unsur seperti suku bangsa
semakin mengkristalkan dan menguatkan identitasnya dalam kondisi
tidak saling mengenal dan memahami kelompok lain.

“Sebagian orang lalu merasakannya sebagai semakin lunturnya
nasionalisme dan perasaan kebangsaan,” ujar Fedyani.

Kebijakan multikulturalisme

Dia berpendapat, yang diperlukan ialah kebijakan pluralisme
digantikan dengan multikulturalisme sebagai sebuah strategi besar.
Integrasi tidak sebatas sosial, tetapi juga integrasi kebudayaan.

Peran negara yang semula merekayasa integrasi yang berujung kepada
politik penyeragaman perlu berubah menjadi fasilitator. Masyarakat
yang tadinya merupakan obyek integrasi berubah menjadi subyek yang
sadar.

Konsekuensinya ialah menempatkan manusia sebagai subyek. Masyarakat
diberikan perangkat hak mereka untuk mengembangkan kebudayaan dan
identitasnya. Akan tetapi, pemberian hak itu disertai dengan
membangun jembatan antarunsur atau multikulturalisme. Dengan
demikian, tidak terjadi primordial baru.

“Inti dari multikulturalisme ialah pengembangan wisdom, yakni
masyarakat tidak melihat kelompok lain dengan penuh prasangka. Kita
memahami orang lain sebagai manusia utuh dan mampu hidup bersama
dalam perbedaan,” ujarnya.

Dia mencontohkan pengalamannya dalam sebuah penelitian di Bulu Kumba,
Sulawesi Selatan. Seorang guru mengatakan bahwa para murid yang orang
asli, lebih malas daripada pendatang. Anak-anak warga asli sering
tertidur di kelas.

Padahal, setelah dilihat lebih dalam, ternyata anak-anak tersebut
semalaman membantu orangtua mereka melaut sehingga sangat lelah di
pagi hari. Sementara anak pendatang umumnya anak para pegawai dan
dapat fokus belajar di sekolah. Kalau ini tidak melihat secara utuh,
kata Achmad Fedyani, maka kita dapat terjebak kepada prasangka.

Menurut dia, dalam membangun jembatan antarkelompok masyarakat atau
multikulturalisme, negara dapat berperan sebagai fasilitator melalui
strategi pembangunan kebudayaannya. Misalnya lewat kurikulum sekolah
sebagai sarana. (INE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: