Trauma dan Kehalalan Berpolitik

Oleh Pepih Nugraha
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/06/Fokus/2631840.htm
——————————

Mendadak nama Go Tjong Ping menjadi terkenal. Bukan karena namanya
sempat dikait-kaitkan dengan kerusuhan Tuban pascapemilihan kepala
daerah, Sabtu 29 April lalu, tetapi karena kiprahnya di dunia
politik.

Sebuah ranah yang teramat dihindari atau bahkan dijauhi oleh warga
keturunan China setelah peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965. Go
Tjong Ping justru terjun dalam dunia politik dengan menjadi politisi.

Pria kelahiran Tuban, 6 Agustus 1955, itu kini tercatat sebagai Wakil
Ketua DPRD Tuban, sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI
Perjuangan (PDI-P) di daerah kelahirannya. Saat pilkada lalu, Go
Tjong Ping digandeng Noor Nahar Hussein yang mencalonkan diri sebagai
bupati. Akan tetapi, pasangan ini dikalahkan incumbent Haeny Relawati
yang berpasangan dengan Lilik Soehardjono.

Di luar kekalahan Go Tjong Ping dalam pemilihan kepala daerah
(pilkada) dan namanya yang dikait-kaitkan dengan kerusuhan
pascapilkada, berkiprahnya warga keturunan dalam panggung politik
menjadi sorotan tersendiri, bahkan menarik untuk dikaji. Soalnya itu
terjadi di wilayah Tuban yang selama ini jauh dari hiruk-pikuk
politik, terlebih kerusuhan berbau politik.

Ditemui di sebuah tempat, 2 Mei lalu, Go Tjong Ping mengaku bahwa
bukan hanya dia seorang warga keturunan China di Tuban yang terjun ke
dunia politik. Ada Tan Tjoan Hong yang menjadi Wakil Bendahara Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikan Abdurrahman Wahid.
Ada pula Ie Kim Hung yang menjadi pengurus PKB Kecamatan Soko.

Di Tubuh DPC PDI-P Tuban sendiri—tempat Go Tjong Ping menjabat selaku
ketuanya—masih ada Go Swie Tong yang menjabat bendahara. Sementara
Tan Tjwoan Siek didaulat sebagai wakil ketua bidang tani dan nelayan.
Juga ada Bhe Han Sing yang menjadi Bendahara PDI-P Kecamatan
Tambakboyo.

“Itu warga keturunan China yang masuk jajaran pengurus partai. Yang
menjadi simpatisan partai tentu masih banyak lagi. Namun, harus saya
akui, belum ada seorang warga keturunan pun yang duduk di
pemerintahan,” kata Go Tjong Ping.

Tidak ada angka pasti ke mana preferensi warga keturunan di Tuban
dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Namun, Go Tjong Ping
memperkirakan, dari sekitar 6.000 warga keturunan dewasa, aspirasi
politik mereka disalurkan ke PDI-P 60 persen, PKB 30 persen, dan
Partai Golkar 10 persen. “Itu terjadi setelah reformasi. Saat Orde
Baru dulu kalau tidak ke Golkar, ya ke PDI,” katanya.

Di Kabupaten Tuban sendiri, dari 20 kecamatan yang ada, warga
keturunan China ada di hampir seluruh kecamatan, kecuali di Kecamatan
Senori. Artinya, warga keturunan dapat diterima dan berbaur baik
dengan warga setempat.

Bagi warga keturunan di Tuban, kerusuhan pascapilkada lalu
menerbitkan kekhawatiran tersendiri. Meski pada akhirnya ada imbauan
toko-toko yang sebagian besar milik warga keturunan harus ditutup,
tanpa itu pun warga keturunan sudah menutup diri, bahkan setelah
kerusuhan mereda. Ini tidak lain karena beredarnya isu bakal adanya
penyisiran terhadap warga keturunan yang dilakukan para pendukung
pasangan Haeny-Lilik, meski kenyataannya isu itu hanya isapan jempol
belaka.

“Ini kerusuhan yang pertama kali terjadi di Tuban. Wajar kalau kami
(warga keturunan China) menjadi sangat khawatir dan bahkan takut
karena kerusuhan ini membawa-bawa warga keturunan,” kata Imelda,
bukan nama sebenarnya, warga keturunan China yang ditemui, Rabu (3/5)
siang, seusai beribadat di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban.

Kekhawatiran Imelda boleh jadi mewakili kekhawatiran sebagian besar
warga keturunan China di Tuban. Menjadi sangat beralasan, mengingat
sepanjang sejarah Tuban berdiri belum pernah terjadi kerusuhan berbau
suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal itu diakui oleh Tan
Tjoan Hong, pengurus Kelenteng Kwan Sing Bio.

“Saya bisa memaklumi kekhawatiran warga keturunan Tionghoa terjun ke
politik. Dengan peristiwa kemarin (kerusuhan Tuban) saja mereka
menjadi berpikir, ini juga gara-gara warga keturunan ikut-ikutan
politik. Kekhawatiran itu ada, tetapi yang penting tidak mempolitisir
orang-orang Tionghoa. Setidaknya dengan tampilnya Go Tjong Ping
selaku calon bupati, kami ingin menunjukkan bahwa berpolitik itu
tidak haram,” tutur Tan.

Keguyuban antarwarga Tuban memang harus diakui sudah terjalin dengan
baik. Ini dibuktikan dengan menyatunya warga keturunan China maupun
Arab, tentu dengan warga Tuban lainnya, yang setiap sore hari
menjelang malam duduk-duduk di perempatan jalan sambil minum tuak,
minuman khas Tuban terbuat dari buah siwalan yang difermentasi.

Mengenai guyubnya warga keturunan China dengan warga Tuban, Tan lewat
pengetahuan sejarah yang dimilikinya bisa merunut ke masa tentara Tar
Tar (Mongolia) di bawah komando Sih-pie, Kau Sing, dan Ike Messe yang
pernah mendarat di Tuban sebelum meneruskan perjalanan ke Sedayu.

Peristiwa yang sezaman dengan Kerajaan Majapahit ini bagi Tan tidak
bisa dilepaskan dengan kehadiran orang China di Tuban. “Meski Tar Tar
itu Mongolia, tetapi tentaranya yang sebagian tinggal di Tuban adalah
orang-orang China,” katanya.

Hal yang sama berasal dari tulisan Ma Hua dalam bukunya, Ying Yai
Shing Lan. Ma Hua adalah orang Tionghoa beragama Islam, yang
mengiringi perjalanan pengembara Cheng Ho (1413 M-1425 M).

Menurut Tan, sebagian pengikut Cheng Ho juga menetap di Tuban, tidak
meneruskan lagi perjalanan. Saat bala tentara Jepang melaksanakan
ekspansi politik dan mendarat di Tuban, tutur Tan, juga membawa bala
tentara dari tanah jajahannya, China, ke Tuban.

“Peristiwa hadirnya tentara Tar Tar, Laksamana Cheng Ho, dan tentara
Jepang itulah yang kami catat sebagai masuknya warga Tionghoa di
Tuban. Jadi sudah lama sekali sehingga wajar kalau masalah etnis di
Tuban sebenarnya tidak ada. Kami sudah guyub sejak lama,” ujar Tan.

Sebagai bukti guyubnya antaretnis dan antaragama di Tuban,
ditunjukkan dengan lahirnya Forum Komunikasi Kerukunan Kemanusiaan
(FK3). Forum ini terbentuk pasca-Kerusuhan 13 Mei 1997 karena warga
Tuban tidak menghendaki kerusuhan itu menjalar. Anggota paguyuban
adalah tokoh-tokoh agamawan dengan pertemuan yang berkala
dilaksanakan secara bergantian.

Baik Go Tjong Ping maupun Tan Tjoan Hong mengakui, keterpanggilannya
terhadap dunia politik adalah semata-mata sosok Abdurrahman Wahid,
mantan Presiden RI yang biasa dipanggil Gus Dur. Memang bagi warga
etnis China, selain figur penting, Gus Dur dianggap sebagai “Bapak
Etnis China”. Karena berkat Gus Dur, keberadaan etnis China serta
kebudayaan yang melekat namun sempat tidur selama masa Orde Baru itu
lebih diakui.

Bahkan Tan merujuk pula jasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang
selain mengakui Khonghucu sebagai agama, juga meminta perkawinan para
pemeluk agama Khonghucu diakui di catatan sipil.

“Terus terang, saya terjun ke politik karena Gus Dur. Bahkan saya
langsung masuk ke PKB, partai yang didirikan Gus Dur. Orang boleh
saja bilang Choirul Anam adalah tokoh hebat di Jawa Timur yang
disebut-sebut memimpin PKB. Tetapi saya pribadi tetap ikut Gus Dur.
Pokoknya Gus Dur,” kata Tan.

Bagi Go Tjong Ping, terjun ke dunia politik adalah masa depan yang
harus tetap diraih. Dia mengaku jalan menuju kursi pemerintah menjadi
jauh kembali saat kalah dari pasangan Haeny-Lilik, tetapi upaya hukum
tetap akan dilakukan. Bahkan, lewat sikap politik PDI-P dan PKB
tentang Pilkada Tuban, disebut-sebut permintaan untuk melaksanakan
pilkada ulang.

Bagi Imelda dan sebagian warga keturunan lainnya di Tuban, upaya Go
Tjong Ping untuk tetap berkiprah di dunia politik
menjadi “kekhawatiran” tersendiri. Warga keturunan yang pernah trauma
berpolitik pasca-G30S PKI akan lebih trauma lagi dengan peristiwa
Tuban.

Namun, bagi Tan Tjoan Hong, berpolitik bagi warga keturunan China
bukanlah sesuatu yang haram. Tuban telah membuktikannya, dengan
segala plus-minusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: