Truman dan Penelusuran Akar Kemajemukan Bangsa

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/15/humaniora/3172520.htm
======================

Kawasan Pegunungan Seribu di wilayah Pacitan, Jawa Timur, pagi itu
masih berkabut. Di beranda rumah Pak Toesimin di Desa Punung,
serombongan kecil orang sudah bersiap-siap bergerak. Tujuan mereka
hari itu adalah goa-goa prasejarah di perbukitan kapur yang tandus,
tak jauh dari Desa Punung.

Jangan salah duga, meski di antara mereka ada beberapa sosok lelaki
dan perempuan bule, rombongan kecil itu bukanlah turis yang tengah
mengunjungi kawasan wisata ekologis. Mereka adalah para peneliti
arkeologi prasejarah, gabungan dari Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional serta Museum d’Histoire Naturelle dan Institut de
Paleontologie Humaine, Paris, Perancis.

Dipimpin Harry Truman Simanjuntak (55), tim kecil itu memasuki
sejumlah goa—tempat hunian manusia purba pada 2 juta-10.000 tahun
lampau— yang menyisakan banyak tinggalan budaya. Cangkang-cangkang
moluska (molusca), serpihan tulang kera (Macaca sp), serta berbagai
bentuk alat serpih ditemukan di tiap lapisan budaya hasil penggalian
di dalam goa.

Kegiatan penelitian di berbagai goa kuno di Pegunungan Seribu yang
membentang sepanjang 85 kilometer—mulai dari Teluk Pacitan di Jawa
Timur hingga ke Kali Oya di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta—hanyalah
bagian kecil dari serangkaian penelitian yang dilakukan Truman
Simanjuntak bersama kolega-koleganya. Kompas sendiri sempat terlibat
dalam beberapa kegiatan mereka di berbagai lokasi penelitian.

Sepi dari “tepuk tangan”

Sebagai arkeolog yang mengkhususkan diri pada bentangan budaya dari
masa prasejarah, dia sadar betul begitu banyak tantangan yang harus
dihadapi. Sementara di sisi lain, penghargaan masyarakat atas
penelitian- penelitian yang mereka lakukan tidak sepadan, bahkan
dianggap sepi. Malah tak jarang muncul pernyataan sinis, bahwa apa
yang mereka lakukan sekadar mengumpulkan serpihan peralatan batu tua
dan sisa peradaban yang bisu.

Kenyataan semacam ini bukan tidak disadari oleh Truman Simanjuntak,
juga rekan-rekannya yang menceburkan diri dalam profesi ini. Dunia
penelitian di bidang arkeologi memang sepi dari “tepuk tangan”.
Kemewahan pun, tentu saja, menjadi sesuatu yang langka.

Ditemui menjelang upacara pengukuhannya sebagai profesor riset oleh
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), akhir November lalu,
Truman menyatakan bahwa ia tidak pernah berkecil hati atas pilihan
hidupnya sebagai peneliti di bidang arkeologi prasejarah. Ajaran yang
ia terima telah membekali dirinya pada kesungguhan dan kecintaan yang
besar terhadap profesinya.

“Ini memang profesi yang jauh dari kemewahan atau kenikmatan duniawi.
Profesi ini selalu bergayut dengan panas, hujan, dan debu. Profesi
yang membutuhkan kecintaan pada pedesaan dengan penduduk yang naif
tetapi ramah; profesi yang bergayut dengan gunung-gunung, padang,
huma, dan lautan,” kata Truman Simanjuntak—ayah dua anak, Ruth (23)
dan Levi (20), dari hasil perkawinannya dengan Yohana Yuliati (49)—
dengan penuh kesungguhan.

Bentangan jejak budaya manusia Indonesia sesungguhnya begitu panjang.
Jauh sebelum konsep tentang tulis-menulis dikenal di Nusantara,
berawal ketika manusia purba pertama (baca: Homo erectus) diketahui
telah menghuni negeri ini pada sekitar 2 juta tahun lampau, ketika
itulah jejak peradaban penghuni awal wilayah yang kemudian bernama
Indonesia ini bisa dirunut.

Jika kehadiran Homo erectus dengan manusia “Pithecantrophus”-nya
sebagai titik tolak peradaban di Nusantara, hingga munculnya tulisan
pada zaman Hindu sekitar abad ke-4/5 Masehi, maka rentang
waktu “peradaban” yang terlampaui itu melingkupi hampir seluruh masa
kehidupan manusia di Indonesia. Sebuah rentang waktu yang sangat
panjang. Artinya, lebih dari 99 persen dari keseluruhan
usia “peradaban” di negeri ini berada di wilayah kajian prasejarah.

“Panjangnya rentang waktu tersebut telah menjadikan prasejarah
Indonesia sarat dengan lembaran kehidupan manusia, budaya, dan
lingkungannya,” kata Truman Simanjuntak.

Semangat pluralisme

Bagi penganut paham pragmatisme, kenyataan tadi hampir tak memberi
makna apa pun. Akan tetapi tidak bagi Truman Simanjuntak. Dalam
keyakinan lelaki kelahiran Pematang Siantar (27 Agustus 1951) ini,
kenyataan-kenyataan itu justru sangat berguna bagi kehidupan masa
kini. Lebih-lebih bila melihat kecenderungan saat ini, ketika nilai-
nilai kebersamaan mulai tergusur oleh sikap eksklusivisme kelompok
atau golongan yang justru kian menonjol. Belum lagi konflik-konflik
yang menafikan kemajemukan dengan berbagai latar belakang muncul di
mana-mana.

Padahal, kata Truman Simanjuntak, kalau kita sebagai bangsa mau
memahami fondasi keindonesiaan kita, mau belajar pada kearifan-
kearifan masa lampau, konflik-konflik sosial itu tidak seharusnya
terjadi. Bahwa, keindonesiaan itu dibentuk atas dasar pluralisme dan
multikulturalisme, yang telah tumbuh sejak awal kehidupan di
Nusantara terbentuk. Ya, sejak manusia purba berkelana di padang
bebatuan di Sangiran, di lembah-lembah sungai di daerah Mojokerto
sekarang, atau di bukit-bukit karst di kawasan Pegunungan Seribu.

Temuan-temuan fosil manusia pada lapisan plestosen bawah di Sangiran,
misalnya, secara fisik sudah menunjukkan ciri yang variatif.
Begitupun jenis dan bahan peralatan yang digunakan. Dari artefak yang
ditemukan, struktur sosial “masyarakat” kala itu pun sudah
memperlihatkan ciri-ciri keberagaman.

Dalam perkembangan kemudian, salah satu keragaman budaya yang paling
menonjol terlihat pada bahasa, yang merupakan perkembangan lanjut
dari bahasa awal: Austronesia! Kemajemukan bahasa ini tentu mengait
erat dengan berbagai unsur budaya lainnya, hingga menciptakan
keragaman etnisitas seperti yang kita jumpai pada masyarakat
Indonesia sekarang.

“Kemunculan penutur Austronesia dan budayanya di kepulauan Nusantara
merupakan etnogenesis bangsa Indonesia, sekaligus peletak dasar
budaya bangsa Indonesia,” papar Truman Simanjuntak.

Oleh karena itu, bagi Truman, pluralisme dan multikulturalisme bagi
bangsa ini merupakan suatu keniscayaan; sesuatu yang memang harus ada
dan tak terbantahkan. Pluralisme dan multikulturalisme yang kita
miliki itu, tambahnya, telah menciptakan mozaik yang indah dalam
tampilan fisik manusia dan budaya Indonesia di sepanjang perjalanan
sejarahnya.

“Sungguh memilukan melihat nilai-nilai pluralisme dan
multikulturalisme yang telah tumbuh sejak awal kehidupan di
Nusantara, pada masa sekarang seolah-seolah tidak pernah ada.
Sementara di sisi lain, eksklusivisme kelompok justru terlihat
semakin menonjol,” kata dia.

Sebuah bentuk kesedihan yang sangat beralasan. Sebab, rasanya kita
pun sependapat dengan Truman Simanjuntak, bahwa kemajemukan itu telah
memperkaya kehidupan budaya bangsa ini. Dan kemajemukan itu sebuah
kearifan yang seharusnya semakin dikembangkan.

“Upaya untuk menghilangkannya akan sia-sia, karena kemajemukan adalah
sifat yang senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Jadi, semua yang terjadi saat ini sesungguhnya ketidaktahuan atau
kesengajaan?” (ine/ken)

2 Comments

  1. September 5, 2009 at 1:39 pm

    bagus pak🙂

  2. December 3, 2012 at 9:01 am

    […] Truman dan Penelusuran Akar Kemajemukan Bangsa […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: