Tuhan, Agama, dan Negara

Oleh Komaruddin Hidayat
Direktur Program Pascasarjana UIN Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/27/opini/3041261.htm
===========================

Otoritas yang bersumber pada Tuhan, agama, dan negara sering
bertabrakan dalam panggung sejarah.

Masing-masing menawarkan keselamatan dan pembebasan sekaligus
menuntut loyalitas dan pengorbanan. Rasionalitas ketiganya berbeda
dalam mewujudkan eksistensi dan peran di masyarakat yang penuh
paradoks.

Ketiganya abstrak, tetapi peran dan pengaruhnya amat besar dalam
sejarah kemanusiaan. Secara ontologis, agama dan negara adalah
derivasi dan akibat firman Tuhan karena Tuhan adalah Maha-absolut,
sumber dan akhir segala wujud. Namun, kini ketiganya hadir bersama
dalam kesadaran manusia, menjelma dalam lembaga yang adakalanya
saling memperebutkan hegemoni. Pada awal diwahyukan, firman Tuhan
selalu memihak kaum tertindas dan melahirkan gerakan politik
emansipatoris. Dalam perjalanannya, firman Tuhan terbelenggu lembaga
yang kemudian dikooptasi tokoh-tokohnya dengan mengatasnamakan Tuhan
dalam semua tindakan yang adakalanya represif-manipulatif.

Padahal, sejatinya ada rentang metafisis dan kognitif yang jauh
antara Tuhan dan penalaran tokoh agama. Masing-masing pada arsy
berbeda. Pemikiran agama adalah produk historis yang penuh muatan
budaya, bersifat kondisional, dan relatif. Sementara Firman (F besar)
bersifat absolut, tidak mungkin diraih secara utuh oleh nalar manusia
yang nisbi.

Namun, tak jarang tokoh agama berbicara dan bertindak berdasar
persepsi dan kepentingan pribadi, disakralisasi atas nama Tuhan agar
berbobot sehingga lebih berwibawa saat akan memengaruhi massa.

Semua agama sepakat, Tuhan adalah Esa. Dialah satu-satunya pencipta
dan pemelihara semesta, tetapi manusia memanggil- Nya dengan nama
berbeda-beda. Selain beda sebutan, titik pokok perbedaan ada pada
pemahaman, penafsiran, dan keyakinan seputar relasi Tuhan-manusia
serta Tuhan-semesta.

Mereka yang beriman dan berislam pada Tuhan yakin, Tuhan Maha Kasih
tetapi akan bertindak sebagai hakim yang mengadili semua yang manusia
perbuat di bumi di akhirat. Bagi faham deisme, alam dipandang bagai
jam raksasa yang bekerja otomatis, dan Tuhan bagai Sang Pencipta
tidak akan campur tangan setelah ciptaan-Nya selesai.

Kontestasi agama dan negara

Pemahaman, sosok agama, dan negara senantiasa berkembang. Muatan dan
spirit keberagamaan yang lahir belasan abad lalu pasti mengalami
perkembangan karena zaman berubah.

Meski semula agama diyakini sebagai firman Tuhan yang menyejarah,
pada urutannya lembaga-lembaga agama berkembang otonom di bawah
kekuasaan tokoh-tokohnya. Wibawa Tuhan lalu mendapat saingan berupa
institusi agama dan negara. Bahkan, negara lebih berkuasa
dibandingkan dengan Tuhan dan agama dalam mengendalikan masyarakat.
Atas nama negara, sebuah rezim bisa memberangus agama karena
beranggapan, berbeda agama berarti berbeda Tuhan, dan perbedaan
berarti ancaman bagi yang lain sehingga negara tampil sebagai hakim.

Dalam realitas sosial-politik, berbagai upaya dicari untuk menemukan
format tepat bagaimana memosisikan ketiganya, yaitu kebertuhanan,
keberagamaan, dan kebernegaraan. Indonesia sebagai negara yang
rakyatnya memiliki semangat beragama yang tinggi sering digoyang
tidak hanya oleh gelombang pasar global, tetapi juga konflik
solidaritas dan loyalitas keagamaan yang melampaui sentimen
nasionalisme dan kemanusiaan. Sering orang lebih membela kepentingan
kelompok seagama meski di luar wilayah Indonesia. Atau lebih loyal
pada kelompok atau partai yang mengusung simbol agama ketimbang pada
cita-cita berbangsa, bernegara, dan kemanusiaan.

Ketika kontestasi antara negara dan agama melahirkan krisis,
sementara ruang agama dan negara dirasakan pengap, orang kembali
merindukan Tuhan melalui caranya sendiri, di luar institusi agama.
Mereka tak lagi percaya pada pengkhotbah dan janji-janji modernisme
yang ditawarkan negara. Lalu muncul gerakan spiritual dan mistik yang
ingin memperoleh pencerahan dan ketenangan batin di luar syariah
agama. Mereka membangun dunia maya guna menemukan kembali
spiritualitas (virtual world of spirituality).

Maraknya pusat meditasi dan latihan spiritual menjadi indikasi krisis
kepercayaan pada lembaga agama, ilmuwan, dan politisi yang dinilai
gagal menciptakan kesejahteraan dan kedamaian. Tidak heran jika
muncul pemberontakan intelektual terhadap lembaga agama dan politisi
yang keduanya sering bertengkar dan berkolaborasi.

Membangun sintesa

Secara teoretis normatif, baik agama maupun negara muncul untuk
melayani masyarakat. Bahkan, negara merupakan anak kandung
masyarakat. Tetapi, pada perjalanannya, lembaga agama dan negara
sering meninggalkan jati dirinya sebagai pengayom, lalu berkolaborasi
untuk mengawetkan kepentingan sekelompok elite penguasa sambil
menindas masyarakat.

Tampaknya bangsa Indonesia masih bingung menemukan hubungan mapan
untuk mempertemukan kesetiaan warganya pada Tuhan, agama, dan negara.
Idealnya, ketiganya bersinergi membangun sintesa sehingga semangat
kebertuhanan dan loyalitas pada institusi agama memperkuat loyalitas
dan etika bernegara.

Konflik loyalitas dan pendekatan pragmatis serta ad hoc terhadap
masalah besar akan terlihat tiap menjelang pemilu. Sepak terjang
penguasa, elite politik, dan tokoh agama berebut massa guna mendapat
legitimasi kekuasaan politik. Mengamati pemilu lalu, banyak tokoh
agama berdiri dengan pijakan massa, bergandengan dengan politisi yang
mengedepankan idiom kenegaraan dan menghadirkan Tuhan untuk
menyakralkan permainan panggung politik yang sarat kalkulasi untung
rugi.

Benturan dan kompromi antara ranah Tuhan, agama, dan negara tidak
saja terjadi di Indonesia, tetapi juga tataran global. Benturan kian
seru saat kekuatan modal besar yang diusung kapitalisme berlomba
menancapkan pengaruhnya sehingga hegemoni Tuhan, agama, dan negara
mendapat pesaing baru bernama kekuatan modal. Berapa banyak sarjana
terbaik bangsa ini bekerja di kantor perbankan dan perusahaan besar
tetapi tidak tahu untuk apa dan siapa mereka bekerja?

1 Comment

  1. November 14, 2008 at 3:50 pm

    Mas komar, tulisanx bagus bnget, tuhan dan agama menjanjikan keselamatan, tanyaku,andai ada org yg tdk melakukan ritual tp khdupanx baik scra sosial bisa selamat tdk ya? Hendaknx aku tdk dijawab dg: wallahu a’lam. Salam.

    http://www.jhelliesite.blogspot.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: