MUJAHIDIN DAN “SETAN BESAR” DI PERANG AFGHAN

Pointers Diskusi Wahhabisme ke-6 (2 Februari 2007)

 

ALIANSI YANG TAK SUCI:

MUJAHIDIN DAN “SETAN BESAR” DI PERANG AFGHAN

Ihsan Ali-Fauzi

 

·        Sessi ini ingin melihat bagaimana negara-negara tertentu (Saudi Arabia, Pakistan, dan khususnya Amerika Serikat), karena kepentingan oportunistik masing-masing, memberi dukungan, langsung maupun tidak langsung, bagi terbentuknya apa yang dapat disebut “jaringan internasional Mujahidin Afghan.”  Konteksnya adalah kekacauan politik di Afghanistan, menyusul dikudetanya Raja Zahir khan, konflik internal kalangan komunis, dan akhirnya invasi Uni Soviet ke Afghanistan.

·        Signifikansi: peristiwa ini menjadi dasar dari terbentuknya jaringan internasional Islamis militan, yang menyebarkan kekerasan atas nama jihad, setelah Perang Afghan usai.  Medan Afghan adalah momen bersama yang akhirnya melahirkan banyak “Frankenstein,” monster yang lahir sebagai konsekuensi tak terduga para pembentuknya.

·        Akan dipresentasikan dulu kepentingan masing-masing negara.  Kemudian disajikan bagaimana kepentingan itu bergabung dalam sebuah proyek besar di Afghanistan.  Akhirnya akan disinggung implikasinya, yang masih akan dikupas secara mendetail di sessi-sessi berikutnya.

 

Konteks Lokal dan Global Masing-masing Negara

 

1.  Afghanistan

·        Raja Zahir Khan (berkuasa sejak 1933, masih usia 19 tahun) digulingkan sepupunya yang juga bekas Perdana Menteri, Muhammad Daud, pada Juli 1973.  Daud memerintah secara otoritarian, dengan membangun aliansi nasionalis yang terdiri dari militer dan bagian dari Partai Komunis Percham.  Mereka menyokong nasionalisme Pushtun (etnis terbesar Afghanistan).  Oposisi datang terutama dari intelektual Komunis dan Islamis, mahasiswa dan profesor yang umumnya berwawasan “internasionalis”.

·        Kalangan komunis Afghanistan melakukan kudeta pada 27 April 1978.  Seperti di banyak bagian Dunia Islam, pendukung kudeta berasal dari generasi tua yang dididik di kota-kota modern dalam model pendidikan Barat (bukan “Islamis”).  Mereka terdiri dari dua kelompok besar yang saling bertikai: Partai Rakyat (Khalq), yang ekstrem, dan Partai Bendera (Parcham), yang agak moderat.

·        Karena khawatir dengan ancaman lawannya di perbatasan yang pro-Barat (Shah Iran dan Jenderal Zia ul-Haq di Pakistan), para pemimpin komunis Afghan menandatangani kesepakatan aliansi dengan pemimpin Soviet (Desember 1978).  Mereka menerapkan kebijakan pembaruan agraria yang radikal, wajib melek-huruf, dan pemaksaan sosialisme lewat penangkapan dan eksekusi, yang mengelienasikan banyak penduduk Afghanistan.  (Kepel 2002: 139)

·        Persekutuan dua faksi terus tak terhentikan.  Pertama Partai Khalq yang  menang, dan para pemimpin Parcham mengasingkan diri ke Moskow.  Belakangan, elite Soviet merasa bahwa yang dilakukan Khalq berlebihan.  Mereka menginvasi dengan mendudukkan Babrak Karmal, dari Partai Parcham, sebagai pemimpin baru Afghanistan.  Ia datang bersamaan dengan tentara Soviet.  Waktu Soviet masuk, itu seperti “Prague Spring”  di bekas Cekoslowakia, 1968.

·        Kelompok oposisi Muslim terdiri dua kategori besar:  (1) kalangan Islamis yang terdiri dari aktivis perkotaan dan mahasiswa; dan (2) kelompok-kelompok agama yang lebih tradisional, tinggal di desa-desa, dengan warna kesukuan yang kuat.  Kelompok pertama lebih penting, karena kelompok kedua tidak begitu kuat dan sering bersedia diajak bekerjasama dengan rezim.

·        Siapakah Islamis Afghan?  Mereka diinspirasikan oleh Ikhwanul Muslimin; pendirinya banyak yang belajar di Mesir.  Mereka muncul pertamakali di Universitas Kabul pada akhir 1950-an dan perlahan berkembang pada 1960-an, ketika karya-karya Sayyid Quthb dan Abu al-A`la al-Mawdudi diterjemahkan.  Pada 1968, Organisasi Pemuda Muslim didirikan dan mulai memenangkan pemilu di kampus-kampus pada 1970-an.  Seperti di negara-negara lain, mereka dominan di jurusan-jurusan ilmu pasti dan terapan.  Tapi, tidak sebagaimana di negeri-negeri Muslim lain, mereka banyak tinggal di pedesaan (sekitar 85% penduduk Afghanistan masih di wilayah ini; migrasi ke kota masih minimal).  Karena kurang bisa menginfiltrasi pusat-pusat kekuasaan seperti di Pakistan, mereka berupaya mengislamkan negara lewat kudeta.  Kegagalan kudeta pada 1975 menyebabkan mereka terpecah-belah, dengan pengaruh besar nantinya.

·        Perpecahan ini ada warna etnis dan politisnya juga.  Ada beberapa kelompok, berikut yang terpenting.  (1) Jamaat-e-Islami (Burhanuddin Rabbani): lulusan al-Azhar; ingin menjalin kerjasama dengan ulama tradisional dan intelektual non-Komunis lainnya, karenanya agak moderat; populer di kalangan Barat, tetapi terbatas aksesnya kepada sistem kerajaan Arab Saudi.  (2) Hezb-e-Islami (Gulbuddin Hekmatyar): aktivis dari jurusan teknik Universitas Kabul; menganakemaskan aktivis dari suku Pushtun; sangat membenci kompromi politik, menjadikannya disukai Ikhwanul Muslimin, Jamaat-i Islami, dan jaringan Saudi.

·        Ketika terjadi kudeta pada April 1978, kalangan intelektual Islamis kurang punya akar di masyarakat; mereka sendiri megasingkan diri.  Perlawanan banyak dilakukan ulama radisional.  Namun organisasi Rabbani mulai memperoleh pengaruh, berkat kemenangan militer Komandan Ahmad Syah Massoud yang terkenal.  Tapi mereka kurang memperoleh dukungan luar nantinya, karena Pakistan (yang mengorganisasikan bantuan dana dan senjata, lihat di bawah) lebih menyukai kelompok Hekmatyar.

 

2.  Saudi Arabia

·        Ancaman Revolusi Islam Iran: menggerogoti klaim Saudi sebagai pemimpin Dunia Islam; ideologi Syi`ah, yang dimusuhi Wahhabisme (demonstrasi Syi`ah dalam negeri pada 1980 dan demonstrasi jamaah haji Iran pada 1986); mempertontonkan kejelekan dan korupsi kerajaan secara terbuka; mempertontonkan dependensi Saudi kepada AS.

·        Ancaman kalangan Islam militan di dalam negeri, yang mulai “rewel”, seperti ditunjukkan dalam peristiwa pendudukan Masjidil Haram.

·        Implikasi: mendukung para mujahidin Afghanistan; turut mengirimkan “Afghan Arab”.

·        Tujuan ke dalam: memberi outlet bagi kalangan Muslim militan untuk bertempur melawan musuh-musuh ateis/komunis; menyaingin jihad Imam Khomeini yang syi`ah.

·        Tujuan ke luar: membantu sekutu AS dalam Perang Dingin melawan Soviet; mencari scapegoat lain, Soviet yang komunis, agar AS tidak menjadi sasaran kemarahan kaum Muslim militan.

·        Tujuan ke luar: menjaga citra sebagai pejuang Islam, di mata Dunia Islam, terlepas dari apa pun yang dikatakan Khomeini mengenai kerajaan Arab Saudi.

 

3.  Amerika Serikat

·        Perlu sekutu baru, karena jatuhnya sekutu lama Shah Iran dan ancaman ekspor Revolusi Islam Iran.  Iran menampilkan wajah politik Islam baru: Iran adalah sebuah rezim yang bukan saja Islamis dan anti-Komunis, tapi pada saat yang sama juga sangat nasionalis, kukuh untuk bertindak secara independen, bebas dari pengaruh asing, khususnya AS (pada yang terakhir, Iran model Islamisme Iran berbeda dari Islamisme lainnya).  AS perlu sekutu-sekutu baru; mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak (dimulai 20 September 1980), di mana AS (diwakili Rumsfeld) mendukung penggunaan senjata kimia oleh Irak (yang kedua setelah Vietnam).

·        Radikalisasi Imam Khomeini: Pendudukan kedubes AS pertama (4 November 1979) oleh mahasiswa militan; Khomeini dan Bazargan turun tangan untuk menetralisasi mahasiswa.  Belakangan, ketika Shah Iran yang sedang sekarat diizinkan untuk berobat di AS, Khomeini bertindak lain; ia mulai menyebut AS sebagai “Setan Besar”; ia mendiamkan pendudukan kedubes dan penyanderaan atas 52 orang (dari sebelumnya 90, termasuk perempuan dan anak-anak) sepanjang 444 hari.

·        Ancaman Perang Dingin: Invasi Soviet ke Afghanistan (Desember 1979); destabilisasi kawasan yang kaya minyak; merusak kepentingan strategis sekutu di kawasan;

·        Perubahan strategi dari “containment” (Carter) ke “roll back” (Reagan).  Afghanistan harus menjadi “Vietnam” bagi Uni Soviet.  Inilah operasi paramiliter terbesar CIA setelah Vietnam; juga perang terpanjang dalam sejarah Uni Soviet (Mamdani 2004: 120)

·        Implikasi: pemberian bantuan kepada para pejuang Afghanistan, yang sebagian besarnya terdiri dari para aktivis fundamentalisme Islam militan – lokal maupun internasional.

·        Reagan mengenai pemimpin Mujahidin Afghan (1985, Gedung Putih): “These gentlemen are the moral equivalents of America’s founding fathers” (dikutip Mamdani 2004: 119).

·        Menurut Mamdani (2004: 123), AS belajar dua hal dari Nikaragua, untuk diterapkan di Afghanistan: (1) sikap lunak kepada perdagangan obat-obat terlarang sebagai sumber pendanaan perang; dan (2) kebutuhan untuk melibatkan semua kalangan yang mungkin – termasuk Kristen kanan, jaringan lobbi politisi ultrakonservatif, dan pasukan paramiliter – di dalam perang.

·        Dukungan resmi AS terhadap musuh-musuh rezim sudah mulai berlangsung sejak pertemuan wakil CIA dengan mereka di Pakistan pada April 1979, delapan bulan sebelum invasi.  Pengakuan Brzezinski: Carter meneken dokumen kerjasama itu pada 3 Juli 1979 (Mamdani, 2004: 124).

·        Bagi AS di bawah Reagan, ini crusade dengan dua tujuan pokok: (1) menggabungkan semua kekuatan Dunia Islam dalam jihad, crusade, menentang Soviet; (2) mengubah perbedaan teologis/ideologis di antara dua kelompok Islam – Syi`ah yang minoritas dan Sunni yang mayoritas – mejadi perbedaan blok politik, sehingga ekspor Revolusi Iran bisa dihentikan karena itu adalah ekspor dotrin Syi`ah.

 

4.  Pakistan

·        Ancaman nasionalisme Afghanistan, dengan meningkatnya sentimen suku Pushtun: Dengan revolusi 17 April 1978 di Afghanistan, Komunisme “internasionalis” menjadi doktrin resmi negara, sedang Islamisme “internasionalis” menjadi kekuatan subversif yang terus dimusuhi.  Akibat revolusi Afghanistan, kalangan Muslim radikal, baik yang moderat maupun yang ekstrem, hengkang dari Universitas Kabul dan mencari suaka di Pakistan.

·        Pakistan memiliki agenda lebih jauh.  Jenderal Zia ul-Haq, Perdana Menteri, ingin memanfaatkan Perang Afghanistan sebagai momen untuk mempererat hubungannya dengan AS.  Dana bantuan AS untuk Pakistan dihentikan pada 1977, akibat rekor HAM Pakistan yang buruk, yang ditandai oleh kudeta dan pembunuhan militer atas Zulfikar Ali Bhutto, seorang Perdana Menteri yang terpilih lewat pemilu.  Sejak invasi Soviet, Carter dan Zia saling tilpon tiap hari.  Tapi hubungan AS-Pakistan di bawah Carter masih hangat-hangat tahi ayam.  Ini berubah drastis sejak naiknya Reagan sebagai Presiden AS (1979).  Ia menawarkan paket bantuan dana dan perlatan militer ke Pakistan yang luar biasa besar, menjadikan Pakistan sebagai penerima terbesar ketiga bantuan AS, setelah Israel dan Mesir.  

·        Pakistan juga ingin memanfaatkan Perang Afghanistan sebagai alat untuk menunjukkan dirinya sebagai pembela Islam Sunni di kawasan itu.  Terobsesi oleh ancaman India, para elite Pakistan juga berharap memperoleh keuntungan strategis dengan membangun suatu wilayah pengaruh baru yang mencakup wilayah antara Kabul hingga Tashkent.  Satu-satunya pengikat bersama wilayah ini adalah ideologi Islam Sunni, yang dianut beragam kelompok etnis di sana.  Islam juga adalah satu-satunya basis legitimasi Pakistan, yang didirikan atas nama Islam.

·        Secara pribadi, Zia ul-Haq juga amat senang dengan perkebangan ini.  Ia menerapkan Syari`ah Islam di Pakistan pada 1979; ia sendiri pengikut Mawdudi; dan ia didukung oleh Jamaat-e Islami yang didirikan Mawdudi.

 

Aliansi Tak Suci: Terbentuknya Jaringan Internasional

 

·        Ketika Soviet invasi, pandangan negara-negara Islam terbelah.  Pada 1979, Soviet memiliki beberapa sekutu di Dunia Islam: Syria, Yaman Selatan, PLO, dan Aljazair bergantung pada dukungan Soviet dan tidak mau mempermalukannya.  KTT OKI di Taif, Saudi Arabia, pada Januari 1981, tidak memperoleh kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan bersama dengan invasi Soviet.  Padahal, mereka bersepakat untuk melakukan jihad untuk membebaskan Jerussalem dan Palestina.  Untuk kasus invasi ke Afghanistan, OKI hanya menyerukan agar negara-negara Muslim bekerjasama dengan Sekjen PBB dalam mengakhiri situasi buruk yang berkembang di sana (Kepel 2002: 139).

·        Karenanya, menurut Kepel (2002: 141), jihad Afghanistan lebih merupakan inisiatif jaringan Islam transnasional daripada insiatif negara-negara Muslim.  Jaringan itu terbentuk di sekitar para ulama dan organisasi-organisasi yang sudah ada semacam Liga Dunia Islam, atau dibentuk secara ad hoc oleh kalangan Muslim salafi, yang ideologinya campuran antara Wahhabisme dan Ikhwanul Muslimin.  Invasi dilihat sebagai pelanggaran atas dar al-Islam, dan jihad defensif harus dilakukan oleh setiap Muslim (fardh `ayn).  Di awal 1980-an, solidaritas Islam sebagian besar berbentuk bantuan finansial.  Sejak 1985, hal itu mulai berbentuk makin meningkatnya jumlah jihadis internasional yang bersedia bertempur.

·        Bagi Pakistan dan Arab Saudi, yang mengorganisasikan skema ini, dan AS, yang menyetujui dan mendukungnya, gagasannya adalah untuk mengalihkan perhatian dan energi kalangan Islam fundamentalis yang militan, yang secara potensial sangat anti-Barat, untuk melawan blok Soviet yang komunis dan musuh Islam.  Pemerintah Saudi juga sedang berusaha untuk menandingi prestise Iran di kalangan Muslim fundamentalis dengan mengedepankan jenis fundamentalisme Islamnya sendiri.  Ringkasnya: idenya adalah untuk mempromosikan sebuah fundamentalisme Islam yang dekat dengan aliran Wahhabisme, yang merupakan ajaran resmi Arab Saudi, yang sangat anti-Syi`ah, dan secara sosial bersifat konservatif.  (Roy, 291).

·        Bagaimana kamp dan tempat latihan ini dikelola?  Semuanya dilakukan dengan hati-hati.  Pendukung utama aliansi perang Afghanistan (yang mencakup pengiriman para voluntir ke Afghanistan) adalah Direktur ISI (Inter-Service Intelligence, Bakin-nya Pakistan), Jenderal Abdul Rahman Akhtar (bertugas dari 1979 hingga 1987), penggantinya, Jenderal Hamid Gul, dan Pangeran Turki al-Faisal, kepala kementerian Intellijen Saudi Arabia.  Mereka memperoleh dukungan dari berbagai organisasi Islam di Timur Tengah (seperti al-Ikhwan al-Muslimun) dan dari Jamaat-i Islam yang berbasis di Pakistan.[1]  CIA tidak memainkan perang langsung dalam operasi ini, tetapi lembaga itu tidak menentangnya atau tidak khawatir akan konsekuensi buruknya belakangan.

·        Pakistan di bawah Zia menjadi perantara.  Sejak 1982, ia memperoleh bantuan dana sebesar US$600 juta dari AS.  Jumlah sekitar itu juga diterimanya dari negeri-negeri Teluk (Kepel 2002: 143).  Dana ini menstabilkan negaranya, sambil melakukan Islamisasi (termasuk menjalankan International Islamic University).  Ada banyak korupsi, tapi semua orang mengabaikannya, sejauh musuh Soviet masih ada di Afghanistan.  Persenjataan dalam jumlah yang massif dialirkan oleh CIA; senjata-senjata itu diturunkan di pelabuhan-pelabuhan Karachi; sebagian dijual di kota itu, menjadikan Karachi kota paling tinggi tingkat kekerasannya di dunia.  Sebagian lain senjata dialirkan oleh truk-truk ke perbatasan Afghanistan untuk kelompok mujahidin; sekembalinya, truk-truk itu mengangkut heroin yang ditanam di Afghanistan, menjadikan DEA, belakangan, pusing.

·        Para pejuang memandang diri mereka sebagai mujahidin (Muslim), sekalipun alirannya bermacam-macam; hanya sebagian kecil yang Wahhabi (Kepel 2002: 137), tetapi mereka tak pernah moderat dan pro-Barat.  Karena dikelola oleh Pakistan dan Jamaat-e Islami, kubu Hekmatyar dan aktivis Ikhwanul Muslimin memperoleh porsi paling besar.

 

Abdullah Azzam: Frankenstein Bentukan Aliansi Tak Suci

 

Contoh kasus yang mungkin paling menarik: Syaikh Abdullah Azzam, yang oleh The New Yorker disebut “the gatekeeper of the Jihad.”  Ia adalag teolog kelahiran Palestina yang lulus dari Universitas al-Azhar; mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, yang salah satu mahasiswanya bernama Osama bin Ladin; berkeliling dunia atas patronase CIA (muncul di televisi Arab Saudi dan sejumlah demonstrasi di AS); pada awal dan pertengahan 1980-an berkampanye merekrut mujahidin dari seluruh dunia; pendiri HAMAS.  Baginya, partisipasi dalam jihad bukan hanya soal politik, tetapi juga kewajiban keagamaan.  Jihad bukanlah hanya membunuh tentara Rusia, tetapi juga mencari kesyahidan.  Dalam sebuah rekaman video (1988), ia berkata: “Saya tiba di Afghanistan, dan saya tidak percaya akan apa yang saya lihat….  Kami sedang mencoba untuk memuaskan dahaga kami akan mati syahid.”  Formulanya mengenai jihad sederhana dan langsung: “Jihad and the rifle alone: no negotiations, no conferences, and no dialogues.”  (Mamdani 2004: 126-127)

 

Implikasi Perang Afghan

 

·        Demikianlah: Kamp-kamp pengungsi dan latihan perang di Peshawar, ibukota provinsi Northwest Frontier, Pakistan: 3 juta pengungsi Afghanistan; tempat pertemuan kalangan mujahidin internasional; terjadi pertukaran ideologi; berkembang logika baru, yang tidak selamanya sejalan dengan logika awal pengiriman mereka ke sana.  Yang terpenting: kami sudah berhasil mengalahkan Soviet.  Siapa musuh berikutnya?  Mengapa tidak setan yang satunya lagi, AS?

·        Tidak penting apakah kemenangan atas Soviet adalah kemenangan para mujahidin.  Terlepas dari pengaruh para voluntir dalam perang Afghanistan, lanskap strategis internasional berubah drastis pada sekitar 1990.  Kegagalan Revolusi Iran untuk mengekspor dirinya dan runtuhnya Uni Soviet menimbulkan tanda tanya mengenai makna penting aliansi kotor antara AS dan kalangan Islam militan: mau diarahkan ke mana mereka?  Namun, tidak ada yang dilakukan untuk membubarkan mereka atau memonitor mereka, yang masih berada di Afghanistan.  Yang mengkhawatirkan, sekitar 1991, jaringan Islam militan yang didukung oleh Arab Saudi dan Pakistan mulai mengembangkan sikap anti-Barat yang terang-terangan.  (Roy, 292).

·        Pertanyaan besar belakangan hari: Dengan ongkos apa Perang Dingin dimenangkan?  Mamdani: “ingin menunjukkan baimana konsekuensi-konsekuensi tak terduga dari aksi-aksi yang misinformed, cynical, dan oportunistik dapat menjadi bumerang bagi para pelakunya” (2004: 121).

·        Teori Mamdani (2004: 129-130): Jihad Afghan adalah jihad Amerika.  “Bagaimana Islamisme sayap-kanan, sebuah kecenderungan ideologis yang didukung oleh hanya segelintir orang yang terpencar-pencar sebelum Perang Afghanistan, berkembang menjadi kekuatan yang mampu mewarnai percaturan politik global pasca 11 September?  Jawabannya terletak pada jihad Afghan, yang telah mengubah kecenderungan itu [Islamisme sayap-kanan] menjadi bukan saja sebuah organisasi, jumlah orang, ketrampilan, jangkauan, dan rasa percaya-diri, tetapi juga tujuan yang koheren.  Sebelum perang Afghan, sayap kanan dari Islam politik itu terbelah ke dalam dua kelompok: yang diidentifikasikan dengan rezim-rezim pro-AS, seperti Saudi Arabia dan Pakistan, dan yang menentang rezim-rezim ini, memandangnya sebagai kaki-tangan (stooges) AS yang telah mengkhianati perjuangan Palestina.  Namun demikian, tidak sebagaimana kalangan Islamis yang mengorganisasikan partai-partai politik dan berupaya memobilisasi rakyat biasa ke dalam aktivitas politik, para Islamis sayap-kanan tidak memiliki program kecuali tindakan-tindakan teror di perkotaan yang dilangsungkannya sesekali (isolated).  Hingga perang Afghan, kalangan Islamis sayap-kanan yang tidak berkuasa sama sekali tidak memiliki aspirasi untuk mengumpulkan kekuatan dari organisasi rakyat atau kemungkinan untuk memperoleh dukungan kekuatan dari sumber alternatif.  Pemerintahan Reagan telah menyelamatkan Islamisme sayap-kanan dari jalan buntu historisnya (historical cul-de-sac).  Jihad AS mengklaim bahwa ia membangun infrastruktur Islam dari aksi pembebasan, tetapi dalam kenyataannya menyiapkan sebuah ‘infrastruktur teror’ yang memanfaatkan simbol-simbol Islam agar bisa masuk ke dalam jaringan dan komunitas Islam.” 




[1] Menarik dan penting dicatat bahwa mereka, dalam aliansi ini, berhubungan dengan para aktivis militan Islam yang secara terbuka bermaksud menjatuhkan rezim-rezim yang berkuasa di Timur Tengah.  Contoh paling menonjol mungkin adalah Ayman al-Zawahiri, seorang dokter yang semula ingin mengislamkan Mesir.  Ia termasuk orang Arab pertama yang tiba di Peshawar, Pakistan, pada 1980.

2 Comments

  1. cheetah MOSLEM said,

    March 14, 2008 at 3:58 am

    AS saudi <<< anjing tai babi lau semua

  2. dendeng usus 88 said,

    June 16, 2012 at 10:06 am

    anda terlalu jauh dalam menilai kami dari kacamata dunia anda ilmu anda . kami bergerak dalam kerangka konsep kami . tuduhan tuduhan anda tak berdasar hanya menghubungkan atas logika historis ilmu anda yang dangkal. kami telah menguasai afghan secara defacto , kami bergerak ke yaman ,pakistan, mali, somalia dll. anda katakan kami kelompok teror tak membangun dlsb tapi pada kenyataannya adalah kami sebuah peta kekuatan baru dalam percaturan kekuatran dunia dan tak ada yang dapat menyaingi kekuatan kami. karena 1 orang dari kami adalah 100 nyawa kalian


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: