TRANSFORMASI DOKTRIN JIHAD DI KALANGAN MUSLIM

Pointers Diskusi Wahhabisme IX (23 Februari 2007)

 

TERORISME BUNUH-DIRI DAN

TRANSFORMASI DOKTRIN JIHAD DI KALANGAN MUSLIM

Ihsan Ali-Fauzi

 

 

Pendahuluan

 

Tidak seperti sepuluh atau bahkan lima dekade yang lalu, kita sekarang sudah terbiasa mendengar berita tentang orang yang bersedia mati bunuh-diri untuk mencapai tujuan tertentu.  Yang paling terkenal tentu saja adalah kasus serangan 11 September, di mana semua penyerangnya mati bunuh-diri.  Dari kawasan Timur Tengah, Irak atau Afganistan misalnya, kita nyaris mendengarnya setiap hari.  Di negeri sendiri kita pernah menyaksikan kasus operasi terorisme bunuh-diri di Bali dan Jakarta.  Sekalipun berusia sangat tua, aksi-aksi terorisme bunuh-diri meningkat tajam sejak dua dekade terakhir.

 

Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini?  Literatur ilmu sosial biasanya memberi kita dua jawaban: kalau bukan seorang religius fanatik, yang bertindak irasional dan berharap bertemu bidadari di surga sekarang juga, maka ia mestilah seorang yang frustrasi akibat himpitan ekonomi atau alienasi psikologis.  Yang satu menggarisbawahi pentingnya ideologi, yang kedua menonjolkan deprivasi ekonomi.  Pada keduanya, bunuh-diri selalu diletakkan sebagai aksi seseorang dan hal itu tidak pernah dilihat sebagai satu bagian dari konteks yang lebih besar.  Selain itu, karena terorisme bunuh-diri belakangan ini banyak dilakukan oleh mereka yang disebut Muslim fundamentalis, yang menyuarakan motif keislaman untuk membenarkan aksi mereka, banyak orang menghubungkan aksi itu dengan fundamentalisme Islam.

 

Sejauh mana bukti-bukti empiris mendukung pernyataan di atas?  Bagaimana doktrin mengenai jihad dalam Islam menopang aksi-aksi itu? 

 

Makalah ini ingin mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan di atas.  Sebagai titik tolak, saya akan mendiskusikan, secara cukup detail, temuan sebuah studi yang komprehensif oleh Robert A. Pape tentang motif-motif aksi terorisme bunuh-diri.  Bagi Pape, aksi-aksi itu dimotifasi bukan terutama oleh fundamentalisme Islam, melainkan oleh nasionalisme untuk mengusir “penjajah” asing.  Pada bagian kedua, saya akan mengeksplorasi kekuatan dan kelemahan tesis Pape ini, dalam hubungannya dengan peran agama (Islam).  Selanjutnya, pada bagian ketiga, saya akan secara singkat mendiskusikan peran ajaran Islam di dalam aksi-aksi terorisme bunuh-diri.  Di situ akan saya coba tunjukkan pada titik-titik mana para aktivis gerakan Islam bersepakat dan pada titik-titik mana pula mereka berbeda pendapat.  Pada butir-butir inilah kita dapat mendeteksi terjadinya transformasi doktrin jihad dalam aktivisme Islam belakangan ini.

 

Studi Pape: Nasionalisme Sekular, bukan Fundamentalisme Islam

 

Dalam Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism (2005), Robert A. Pape menolak pandangan bahwa aksi-aksi terorisme bunuh-diri terkait secara langsung dan signifikan dengan ideologi fundamentalisme Islam.  Baginya, pandangan itu didasarkan pada asumsi yang salah, data yang tidak komprehensif, dan dapat berimplikasi negatif: justru menumbuhsuburkan aksi bunuh-diri oleh kalangan fundamentalis Muslim.

 

Ini temuan menarik sekaligus kontroversial.  Pape bukan sebarang sarjana: ia gurubesar ilmu politik pada Universitas Chicago, salah satu pusat studi ilmu politik paling kuat di AS.  Selama hampir satu dekade ia mengepalai pusat studi tentang terorisme bunuh-diri di universitas itu.  Sekalipun temuannya melawan arus utama teoretisasi tentang terorisme bunuh-diri, studinya diakui sangat ilmiah.

 

Kesimpulan Pape di atas ditarik dari studinya atas 315 kasus serangan bunuh-diri di seluruh dunia antara 1980 dan 2003.  Ini mencakup tiap episode di mana sedikitnya seorang teroris membunuh-dirinya sendiri seraya membunuh yang lain, tetapi tidak mencakup serangan bunuh-diri yang diorganisasikan oleh sebuah pemerintahan nasional (misalnya oleh Korea Utara terhadap Korea Selatan).

 

Data Pape menunjukkan bahwa hubungan antara terorisme bunuh-diri dan fundamentalisme Islam tidak sekuat seperti diduga orang.  Pape menemukan bahwa sekalipun yang memelopori serangan bunuh-diri di era modern adalah para pejuang Hizbullah, yang dominan menerapkannya adalah para aktivis Macan Tamil di Sri Lanka, sebuah kelompok Marxis-Leninis yang anggotanya berasal dari keluarga Hindu tetapi mereka sendiri emoh dengan agama.  Dari 315 kasus yang diteliti Pape, kelompok ini melakukan 76 kali serangan bunuh-diri, lebih banyak dari Hamas (54 kali) dan Jihad Islam (27 kali).  Yang juga menarik dari temuan Pape adalah jika aksi-aksi bunuh-diri oleh kalangan Muslim sendiri diperbandingkan.  Datanya menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga dari aksi-aksi bunuh-diri oleh kaum Muslim justru dilakukan oleh kalangan Muslim sekular, yakni kelompok-kelompok seperti Partai Buruh Kurdistan (Turki), Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (Palestina), dan Brigade Syahid al-Aksa (Palestina).

 

Yang menyatukan hampir semua aksi bunuh-diri itu, kata Pape, adalah tujuan khususnya yang bersifat sekular dan strategis.  Tujuannya adalah untuk memaksa agar negara-negara demokratis modern menarik mundur kekuatan militer mereka dari wilayah yang oleh para pelaku bom bunuh-diri dianggap sebagai tanah air mereka.  Misalnya tentara AS dari Semenanjung Arabia, Israel dari Palestina, Rusia dari Chechnya, dan lainnya.

 

Kesimpulan ini ditopang oleh tiga pola besar yang mewarnai aksi-aksi bunuh-diri.  Pertama, hampir semua aksi, 301 dari 315 kasus yang diteliti Pape, terjadi sebagai bagian dari kampanye politik dan militer yang terorganisasikan dan lebih besar.  Aksi-aksi itu bukan arbitrer dan tanpa komando.  Aksi-aksi ini dipilih sebagai pilihan terakhir.  Para sponsor aksi-aksi ini sadar bahwa mereka secara militer lebih lemah dibanding pihak yang ditentangnya.  Aksi bunuh-diri menjadi senjata kaum lemah (weapons of the weak).

 

Kedua, negara-negara demokratis menjadi objek yang rentan terhadap aksi-aksi ini.  AS, Perancis, India, Israel, Rusia, Sri Lanka, dan Turki hampir selalu menjadi target aksi bunuh-diri sepanjang dua dekade terakhir.  Dalam pandangan para sponsor aksi bunuh-diri, negara-negara demokratis rentan terhadap tuntutan yang disampaikan lewat aksi bunuh-diri; rakyat di negara-negara demokratis dapat mendesakkan diubahnya kebijakan luar negeri pemerintahan mereka, agar sejalan dengan tuntutan para pelaku aksi terorisme bunuh-diri.  Selain itu, diyakini bahwa retaliasi pemerintah negara-negara demokratis terhadap aksi mereka tidak akan separah dibanding retaliasi oleh pemerintahan otoriter.

 

Ketiga, aksi-aksi bunuh-diri itu dilakukan untuk mencapai satu tujuan strategis: dari Lebanon ke Israel ke Kashmir dan Chechnya, para sponsor aksi bunuh-diri – semuanya 18 organisasi dalam data Pape – berupaya untuk membangun atau mempertahankan kedaulatan politik (political self-determination) di tanah air mereka sendiri.  Di sini Pape membedakan antara egoistic suicide (bunuh-diri sebagai pelarian diri karena alienasi, misalnya) dan altruistic suicide (bunuh-diri untuk mencapai tujuan yang lebih besar).

 

Di mana peran agama?  Menurut Pape, agama hanya digunakan sebagai alat untuk dua tujuan: (1) merekrut para calon pelaku bunuh-diri dan (2) mencari dukungan dana dari luar negeri.

 

Contoh-contoh yang dikemukakan Pape tampak persuasif.  Misalnya, sebelum invasi Israel ke Lebanon pada 1982, tidak ada aksi bunuh-diri Hizbullah terhadap Israel.  Bahkan, Hizbullah justru dibentuk sebagai tanggapan atas invasi itu.  Lalu, sebelum militer Sri Lanka masuk ke wilayah yang dikuasai Macan Tamil pada 1987, para aktivis Macan Tamil tidak pernah menerapkan aksi bunuh-diri.  Juga, sebelum jumlah tentara pendudukan Yahudi meningkat drastis di Tepi Barat pada tahun 1980-an, kelompok-kelompok Palestina tidak menerapkan aksi bunuh-diri.  Akhirnya, kasus-kasus aksi bunuh-diri di Irak sejak invasi militer AS pada 2003.  Sebelumnya, tidak ditemukan aksi sejenis itu.  Menurut Pape, para pelakunya adalah kaum Sunni Irak dan mereka yang disebut jihadist dari luar, khususnya Arab Saudi.  Ini sejalan dengan argumen Pape mengenai pertimbangan strategis aksi-aksi itu: mereka ingin menggoyang keberadaan militer AS di Irak dan Arab Saudi.

 

Temuan Pape punya implikasi kebijakan serius.  Ia menawarkannya khususnya untuk pemerintahan negerinya, AS, tetapi tawaran ini juga berguna untuk pemeritahan lain.  Semula diasumsikan bahwa bagi AS, akan lebih baik jika para teroris itu beraksi jauh di luar AS sendiri, di Irak misalnya.  Kata Pape, yang terjadi tak sesuai harapan.  Keberadaan pasukan AS di Teluk Persia sejak 1990 telah memungkinkan al-Qaeda untuk merekrut para pelaku aksi bunuh-diri, yang pada gilirannya menyerang rakyat AS di wilayah itu (pemboman kedutaan AS di Afrika pada 1998, misalnya).  Lalu keberadaan lebih dari 150 ribu pasukan AS di Irak hanya menambah amunisi untuk para sponsor aksi bunuh-diri merekrut anggota baru.

 

Apa alternatifnya?  Kata Pape, menyebarkan demokrasi di Timur Tengah tetap penting, tetapi itu bukan panacea sejauh pasukan AS masih menetap di sana.  Meninggalkan sama sekali kawasan itu, menurut Pape, juga bukan pilihan terbaik, karena kepentingan minyak AS dan keamanan sekutunya di wilayah bersangkutan.  Solusi terbaiknya adalah AS menerapkan kembali strategi “offshore balancing” yang pernah dipraktikkannya pada dekade 1970-an dan 1980-an.  Di sini AS mengelola kepentingannya di sana tanpa menempatkan pasukan secara langsung.  Melainkan, untuk menjaga kepentingannya dan sekutunya di wilayah itu, AS menempatkan pasukannya di tengah laut, di kapal atau pangkalan militer di dekat wilayah itu.

 

Bagi Pape, alternatif di atas adalah pilihan paling bijak, karena yang harus lebih dikhawatirkan adalah lahirnya generasi baru para aksi teroris bunuh-diri sebagai reaksi dari pendudukan tentara asing.  Perang melawan terorisme yang sesungguhnya bukanlah membunuh habis para teroris itu, sekalipun hal ini tetap penting, melainkan mencegah lahirnya teroris-teroris baru.  Akar masalahnya bukanlah Osama bin Ladin itu sendiri, tetapi alasan yang digunakan Osama untuk merekrut para pengikut baru.

 

Peran Agama (Islam): Kekuatan dan Kelemahan Studi Pape

 

Studi Pape amat menarik karena beberapa alasan.  Pertama, studi ini kuat secara metodologis.  Pape menampilkan data-data empirik yang dikumpulkan dengan susah-payah dan dianalisis secara sistematis.  Dataset-nya juga meyakinkan, mencakup semua kasus pada masa di mana aksi-aksi bunuh-diri terjadi secara beruntun dan meningkat tajam.  Dibanding studi komprehensif ini, studi-studi kasus akan kurang meyakinkan.  Pape menyajikan untuk kita metriks, tabel dan grafik yang menggambarkan semua kasus aksi bunuh-diri, sesuatu yang bisa dikuantifikasi dan dicek validitasnya oleh semua orang.  Ini mengalahkan penafsiran-penafsiran yang spekulatif dan polemis mengenai aksi bunuh-diri, yang sering kurang meyakinkan, kalau tidak malah membingungkan, kita.

 

Kedua, tesis Pape reassuring, membesarkan hati kita bahwa pada akhirnya toh ada cara untuk mengakhiri aksi-aksi bunuh-diri.  Sudah sering kita mendengar paparan mengenai para pelaku aksi bunuh-diri sebagai orang-orang yang fanatik dan tidak rasional, yang karenanya mustahil dihentikan.  Dengan mengedepankan alasan altruistik, bukan alasan egoistik, dari aksi bunuh-diri, Pape meyakinkan kita bahwa aksi-aksi mereka bisa dihentikan.  Caranya adalah dengan menarik pasukan dari wilayah yang mereka pandang sebagai tanah air mereka.  Dan data Pape mendukung hal ini.  Misalnya, Hizbullah menghentikan aksi-aksi bunuh-diri mereka setelah tentara AS dan Perancis menarik diri dari Lebanon, sesuai tuntutan Hizbullah.  Ini juga salah satu kelebihan studi Pape: ia mampu menunjukkan bagaimana dan kapan aksi-aksi bunuh-diri itu berhenti atau selesai.  Kalau aksi-aksi itu didorong oleh fundametalisme Islam, tanya Pape secara retoris, mengapa aksi-aksi itu berhenti sementara fundamentalisme Islam terus berkembang?

 

Ketiga, teori Pape menawarkan sebuah tafsir yang sepenuhnya sekular atas aksi-aksi bunuh-diri.  Ingat bahwa menurut Pape, tuntutan para pelaku aksi bunuh-diri tidak bersifat religious, khususnya Islam, melainkan nasionalistik.  Lagi-lagi, tuntutan ini lebih masuk akal dan deal serta negosiasi dengan para sponsornya bisa dilakukan.  Ini sulit dilakukan kalau agama dibawa-bawa, dengan aura apokaliptiknya yang mematikan.  Bagi mereka yang sudah lama emoh dengan kebijakan luar negeri AS, tesis Pape juga meyakinkan.  Tesis itu menunjang pandangan mereka bahwa radikalisme dan kekerasan politik adalah reaksi atas kebijakan luar negeri AS yang semau gue.  Kalau Hugo Chavez sempat membaca karya ini sebelum KTT Non-Blok kemarin, tidak tertutup kemungkinan bahwa ia juga akan menyarankan supaya buku ini dibaca, selain karya Noam Chomsky.

 

Tetapi sejumlah pertanyaan dan kritik harus diajukan kepada asumsi, strategi perbandingan antarkasus, dan data-data Pape.  Saya akan mulai dengan asumsinya, yang patut dipertanyakan.

 

Pape berasumsi bahwa semua kasus aksi bunuh-diri bisa diperbandingkan.  Ingat bahwa ia meneliti 315 kasus dari seluruh dunia, dan dari sana ia menarik kesimpulan-kesimpulan penting.  Tetapi apakah kita memerlukan sebuah penjelasan tunggal mengenai aksi-aksi bunuh-diri.  Mengapa aksi-aksi bunuh-diri harus punya alasan dan makna yang sama di mana-mana?  Pertanyaan ini penting karena toh pada akhirnya aksi bunuh-diri adalah sebuah sistem senjata.  Ia hanyalah alat yang bisa dugunakan siapa saja dan untuk alasan apa saja.  Jika aktivis Hizbullah yang fundamentalis menggunakannya, maka aktivis Macan Tamil bisa menirunya tanpa harus menjadi Islam fundamentalis.  Senjata, dalam perkataan lain, tidak mengenal ideologi.

 

Kedua, cara Pape membandingkan kasus-kasus biased untuk mendukung teorinya.  Ia menekankan kuantitas aksi-aksi bunuh-diri, sehingga yang menonjol dari datanya adalah bahwa organisasi Macan Tamil merupakan pemecah rekor aksi-aksi itu.  Dengan begitu ia tidak melihat secara mendetail (menyembunyikan?) sekuensi aksi-aksi bunuh-diri ini.  Padahal, jika dilihat dari sekuensinya, aksi-aksi ini diawali Hizbullah pada 1983, yang kemudian menyebar ke (ditiru oleh?) kelompok-kelompok yang lain, termasuk yang lebih sekular.  Mengapa aksi-aksi ini dimulai dari Hizbullah?  Bukti yang ada menunjukkan bahwa peran konsep Islam besar di sini, yakni konsep mengenai kesyahidan.  Jika benar, ini tentu menggerogoti adekuasi teori Pape, yang agak menyepelekan faktor agama.

 

Ketiga, sementara teori Pape bisa dengan meyakinkan menjelaskan kasus Hizbullah di Lebanon, teori itu susah sekali digunakan untuk menjelaskan fenomena al-Qaeda.  Ingat, Pape ingin kita percaya bahwa al-Qaeda adalah suatu gerakan nasionalisme Arab yang diprovokasi kehadiran tentara AS di Semenanjung Arabia.  Kata Pape, kalau mau al-Qaeda berhenti, sebaiknya pemerintah AS menarik tentaranya dari wilayah itu dan mengawasinya dari offshore.

 

Di sini bukti-bukti Pape lemah dan terasa dipaksakan.  Ia mengangkat fakta penting bahwa 15 dari 19 pelaku 11 September adalah warga Arab Saudi.  Sekalipun benar, bukti ini tidak lengkap.  Pape tidak memperhitungkan sejumlah calon pelaku bunuh-diri yang tidak berhasil masuk ke AS sebelum 11 September.  Dalam Perfect Soldiers: The Hijackers: Who They Are, Why They Did It (2005), wartawan LA Times Terry McDermott mengungkap bahwa sedikitnya setengah dari selusin orang yang terpilih untuk melakukan missi itu tidak berhasil masuk ke AS.  Mereka tidak bisa memperoleh visa karena mereka dikhawatirkan akan menetap di AS.  Demikian, karena mereka adalah orang-orang Yaman, yang miskin secara ekonomi.  Sebaliknya, warganegara Arab Saudi, yang menjadi dasar teori pape, justru mudah memperoleh visa karena negara mereka adalah negara kaya dan bersahabat dengan AS.  Konterfakta ini penting dikemukakan karena, seperti dikatakan McDermott, Osama bin Laden, yang bapaknya lahir di Yaman, “menunjukkan isyarat bahwa ia ingin menggunakan orang-orang Yaman dalam menjalankan rencananya.”

 

Bukti Pape juga lemah jika pendudukan AS di Semenanjung Arab dibandingkan dengan aksi-aksi pendudukan lain.  Jumlah tentara AS di Arab Saudi hanya sekitar 12.000 pada 2001, menjelang 11 September.  Padahal, seperti ditunjukkan Pape di Tabel 10 bukunya, wilayah ini dihuni penduduk dengan jumlah paling besar di Teluk Persia, 50 juta jiwa.  Yang tidak ditekankan Pape adalah kenyataan bahwa pendudukan ini hanya menghasilkan jumlah korban paling kecil: nol!  Bandingkan dengan jumlah mereka yang menjadi korban di Chechnya (50.000 jiwa) dan Lebanon (19.000), yang jumlah penduduknya masing-masing hanya sekitar satu juta jiwa.  Pendeknya, kehadiran pasukan AS adalah sebuah pendudukan, jika mau disebut demikian, yang jauh lebih lembek dibandingkan dengan aksi-aksi pendudukan lain.

 

Menyangkut fenomena al-Qaeda, penjelasan Olivier Roy, dalam Globalized Islam (2004), jauh lebih meyakinkan.  Di situ ia berbicara mengenai tumbuhnya jaringan transnasional gerakan-gerakan Islam, yang tak terkait dengan tempat tertentu.  Sekarang, katanya, kita menyaksikan tumbuhnya generasi Muslim baru yang bagi mereka viktimisasi kaum Muslim di mana saja adalah sesuatu yang nyata dan personal, dan harus dilawan dengan apa saja.  Beberapa di antara generasi baru ini lahir di Barat.  Inilah yang lebih menjelaskan mengapa aksi-aksi bunuh-diri dilakukan di Bali, London dan Madrid.

 

Jihad lewat Aksi Bunuh-Diri

 

Sekarang mari kita lebih khusus bicara mengenai kasus-kasus Islam.  Pertanyaan kita: bagaimana bunyi ajaran Islam tentang bunuh-diri?  Apakah kita bisa temukan aksi-aksi bunuh-diri dalam sejarah Islam?  Apakah kita bisa membeda-bedakan antara satu dan lain jenis bunuh-diri?  Bagaimana para pelaku aksi bunuh-diri menberi justifikasi keagamaan bagi aksi-aksi mereka?

 

Pertama-tama harus dikemukakan bahwa Islam adalah agama yang dengan tegas mengharamkan aksi bunuh-diri.  Dalam al-Qur’an disebutkan: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (wa lâ tulqû bi-aydîkum ilâ al-tahlukah [Q 2: 195]) dan “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri (wa lâ taqtulû anfusakum [Q. 4: 29]).  Secara tradisional, negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim pun dikenal sebagai negara-negara dengan angka kematian akibat bunuh-diri paling rendah di dunia. 

 

Dilihat dari sejarah, di kalangan Islam Sunni, aksi-aksi bunuh-diri adalah sebuah fenomena yang relatif baru.  Di kelompok Islam lain, seperti Syi`ah Isma`iliyah atau Syi`ah Imamiyah, aksi bunuh-diri sudah lama dikenal dan diterima luas.  Tetapi penting dicatat bahwa aksi-aksi ini selalu diletakkan dalam kerangka mencapai tujuan yang lebih besar (istilah mereka: “perjuangan”), yakni sebagai cara untuk menjalankan apa yang mereka pandang sebagai jihad membela kepentingan kaum Muslim.  Dalam Islam Syi`ah, misalnya, tradisi kesyahidan itu sudah dimulai dengan kerelaan Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, untuk mati di padang Karbala, karena musuh yang dihadapinya sangat besar (cf. Esposito, Unholy War [2002], 68).

 

Dalam konteks kontemporer, hal ini ditegaskan dengan detail di dalam dokumen berjudul “Aturan-aturan Islam tentang Kebolehan Operasi-operasi Kesyahidan,” yang dikeluarkan oleh Dewan Ulama Semenanjung Arabia bagi para pejuang Chechnya.  Mereka mendefinisikan “Operasi-operasi kesyahidan atau pengorbanan-diri” sebagai “operasi-operasi yang dilakukan oleh seseorang atau lebih, melawan musuh yang kekuatannya jauh melampaui mereka dalam hal jumlah dan perlengkapan, dengan pengetahuan sebelumnya bahwa operasi-operasi itu hampir dapat dipastikan akan menyebabkan kematian [si pelaku operasi]” (dikutip dalam Cook, Understanding Jihad [2005], 142).

 

Definisi ini mengungkap mindset yang menyebabkan diperbolehkannya operasi kesyahidan: operasi-operasi itu dibenarkan karena kaum Muslim kalah dalam sumberdaya manusia atau teknologi.  Karenanya, kaum Muslim harus memanfaatkan secara maksimal satu keunggulan yang mereka miliki: kesediaan si Muslim untuk mati.  Demikianlah, poster-poster yang dipajang para mahasiswa di berbagai universitas di Tepi Barat dan Gaza, lapor Esposito, bunyinya begini: “Israel punya bom nuklir, kita punya bom manusia” (Esposito, Unholy War [2002], 99).  Semetara Palestina bukanlah tandigan Israel dari segi jumlah manusia dan persernjataan, Dr. Abdel Aziz Rantisi, pemimpin senior Hamas, percaya bahwa bom-bom manusia Palestina akan menjamin bahwa “orang-orang Israel tidak akan memperoleh kestabilan dan keamanan hingga pendudukan diakhiri.  Para pelaku bom bunuh-diri adalah masa depan Israel” (dikutip dalam Esposito Unholy War [2002], 100).

 

Dokumen yang saya kutip di atas juga menyebutkan dengan detail bagaimana operasi kesyahidan di atas dijalankan.  Kata dokumen itu: “Bentuk operasi yang biasa digunakan sekarang adalah dengan melengkapi tubuh seseorang, kendaraan atau tas dengan bom, dan kemudian masuk ke tengah-tengah sekumpulan musuh atau fasilitas musuh yang vital, dan untuk meledakkan [bom yang sudah terpasang itu] di tempat yang dianggap pas sehingga dapat menyebabkan kerugian maksimum di pihak musuh, seraya mengambil keuntungan dari unsur keterkejutan dan penetrasi.  Menurut hukum alamnya, pelaksana operasi itu biasanya akan menjadi orang pertama yang mati” (dikutip dalam Cook, Understanding Jihad [2005], 142).

 

Maka penting juga disebutkan soal bahasa-politik yang digunakan dalam discourse soal bunuh-diri atas nama agama di sini.  Kalau kita meminjam istilah Pape yang sudah didiskusikan di atas, aksi-aksi oleh kaum Muslim di atas tidak pernah dilakukan sebagai egoistic suicide, melainkan selalu merupakan altruistic suicide.  Bom-bom berupa manusia itu, meminjam istilah Pape lagi, adalah senjata orang-orang lemah.  Oleh para pengasa, baik nasional seperti rezim otoriter Hosni Mubarak di Mesir atau internasional seperti pemerintahan George Bush di AS, mereka disebut “teroris.”  Tapi mereka sendiri menyebut diri mereka “pejuang,” sambil menuduh-balik Bush dan sekutu-sekutunya sebagai “teroris.”

 

Dokumen yang sudah saya sebut di atas juga menyadari aspek discourse ini.  Dalam dokumen itu disebutkan,

 

Sebutan “operasi bunuh-diri” yang digunakn orang adalah tidak akurat, dan bahkan sebutan itu dipilih oleh orang-orang Yahudi untuk men-discourage orang dari melakukan upaya seperti itu.  Betapa besar perbedaan antara seseorang yang melakukan bunuh-diri (suicide) – karena ketidakbahagiaannya, kekurangsabarannya, dan kelemahan atau ketiadaan iman pada dirinya – dan seseorang yang rela mengorbankan-diri (self-sacrificer) yang berangkat menyongsong operasi itu karena kekuatan iman dan keyakinannya, dan untuk membawa kemenangan bagi Islam dengan mengorbankan hidupnya demi meninggikan sadba Ilahi. (dikutip dalam Cook, Understanding Jihad [2005], 143).

 

Dalam Islam, para pelaku aksi bunuh-diri dengan tujuan di atas disebut sebagai syahîd (“yang memberi kesaksian”), sebuah kata yang juga digunakan di dalam al-Qur’an.  Di sini diimplikasikan bahwa kerelaan untuk mati dalam rangka membela kebenaran adalah bentuk kesaksian tertinggi kepada Tuhan.  Kata Arab ini berasal dari kata yang sama dengan pernyataan kesaksian kaum Muslim (syahâdah), bahwa “Tidak ada Tuhan selai Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.”  Mereka yang mati dalam perjuangan ini akan langsung dikirim ke surga (lihat juga Esposito, Unholy War  [2002], 69-70).

 

Hingga titik ini, banyak aktivis Islam yang bersepakat.  Maka tidak mengherankan jika beberapa ulama terkenal dan dihormati di Timur Tengah, seperti al-Tantawi dan Yusuf Wardhawi, mendukung aksi-aksi kesyahidan menentang pendudukan tentara asing di wilayah-wilayah Islam.  Mereka mengeluarkan fatwa-fatwa yang berisi dukungan mereka terhadap aksi-aksi itu, ketika aksi-aksi itu makin populer.

 

Namun perbedaan pendapat mulai terjadi ketika diskusi sampai pada masalah siapa (calon) korban yang akan menjadi target operasi-operasi bunuh-diri atau  kesyahidan.  Ini masalah krusial, karena watak terorisme itu sendiri menunjukkan bahwa operasi itu baru benar-benar berhasil dalam jangka panjang jika korban yang diakibatkannya besar dan melibatkan kalangan warganegara biasa.  Lebih krusial lagi jika korban yang diakibatkan itu adalah kaum Muslim sendiri.

 

Perbedaan pendapat juga terjadi dalam hal apakah yang dianggap musuh yang dianggap melukai kaum Muslim adalah rezim yang memerintah di satu negara tertentu atau tatanan internasional yang dianggap tidak adil.  Inilah yang membedakan antara apa yang disebut sebagai al-`aduw al-qarîb (musuh yang dekat) dan al-`aduw al-ba`îd (musuh yang jauh).  (Lihat Gerges, The Far Enemy [2005]).

 

Perbedaan pendapat ini menyangkut justifikasi (boleh atau tidak) dan efektivitas (apakah ini menguntungkan atau tidak, dalam jangka menengah dan panjang).  Pada kalangan tertentu, ukuran efektivitas diletakkan sebagai bagian integral dalam memperhitungkan apakah sebuah operasi dapat dijustifikasi atau tidak.

 

Transformasi Makna Jihad: Ketika Jihad Mengglobal

 

·        Persoalan-persoalan di atas menyentuh masalah yang lebih umum, yakni mengenai doktrin jihad, yang aksi bunuh diri adalah hanya salah satu bentuknya.  Di sini kita sebenarnya juga menyaksikan terjadinya transformasi makna jihad dalam pemikiran Islam kontemporer.  Sebelumnya, jihad selalu dipahami dalam pengertian aksi yang bersifat “defensif,” dan hukumnya fardh kifayah (kewajiban kolektif).  Sekarang jihad harus bersifat ofensif dan menjadi kewajiban setiap Muslim (fardh `ayn).

 

·        Etos jihad global, sumbangan `Azzam: `Abdallah `Azzam sebagai teoretikus baru jihad.  Dalam pandangannya, jihad selalu dilakukan dalam rangka (dunia) Islam secara keseluruhan, bukan misalnya dalam rangka membela nasionalisme Palestina.  Ia menekankan bahwa jihad, dan hanya jihad, yang dapat menghidupkan kembali kesatuan Islam dalam sebuah negara universal.  Tujuannya adalah untuk menegakkan negara Islam universal.  Ia amat percaya pada kekuatan kesyahidan untuk mendorong dan menggerakkan orang – yang, menurut Cook, mungkin tidak tertandingi dalam tradisi Islam Sunni sejak era fath pada abad ketujuh dan kedelapan. (2005: 129):

  1. Menekankan kaitan antara tinta para ulama dan darah para mujahid bersenjata (2005:129);
  2. Amat eksplisit mengenai corak kesyahidan dan konsekuensi bertempur (2005:129);
  3. Jihad sebagai kewajiban tiap Muslim; bagian dari rukun Islam; menghindar dari berjihad adalah dosa (2005: 130);
  4. Ia memberi contoh personal, dan dalam Ilhaq bi al-qafilah (“Bergabunglah dengan Karavan”) menyerukan keterlibatan semua kaum Muslim

 

·        Jihad Afghanistan sebagai latihan sementara, karena mereka terbebas dari kejaran rezim oppressif di negeri-negeri Muslim sendiri.  Setelah itu, baru jihad melawan Israel.

 

·        Audiens `Azzam adalah voluntir jihad yang datang dari seluruh dunia, terlepas dari perbedaan kebangsaan, etnis dan kadangkala doktrinal di antara mereka.  Konteks Peshawar, pertamakalinya dalam sejarah Islam.  Gerges: “The major contribution of the Afghan veterans, particularly militant Islamists, was felt outside the borders of Afghanistan, in many Muslim countries and beyond.  Although never conceived or intended as a way station to global jihad, the Afghan war gave birth to a new mobilized, seasoned, and professionalized transnational force composed of Muslim fighters and freelancers who became addicted to the jihad business” (2005: 84).

 

·        Kasus paling mengena, Ayman al-Zawahiri, amir Jihad Islam (Mesir).  Dalam memoarnya ia mengakui, di negaranya sendiri, gerakannya dikecam masyarakat yang dianggapnya masih “jahiliyyah,” dan kontur Mesir yang rata mempersulit organisasinya untuk melakukan perang gerilya melawan pemerintah.  Ketika beragkat ke Afghanistan pada 1986, maksudnya pertama-tama adalah untuk menghidupkan kembali Jamaah Islamiah dan mengurusi keberengsekan pemerintahan Mesir.   Palestina juga penting. Cuma, katanya, “Jalan menuju pembebasan Palestina itu harus lewat Cairo.”  Tetapi, sebagaimana dilaporkan bekan rekannya Montasser al-Zayyat, yang belakangan terkenal sebagai pembela HAM para tahanan Islamis di Mesir, pengalaman al-Zawahiri di Afghanistan “telah sangat mempengaruhinya dan menjadikannya lebih ambisius dan self-serfing” (dikutip dalam Gerges 2005: 89).  Dalam kata-kata al-Zawahiri, medan Afghanistan adalah “inkubator”  bagi tumbuhnya bibit-bibit gerakan jihadis dan di mana bibit-bibit itu memperoleh “pengalaman praktis dalam perang, politik, dan organisasi” (dikutip Gerges 2005: 85).  Setelah itulah, pada 1990-an, ia mulai bicara mengenai globalisasi jihad, dan sampai sekarang menjadi tangan kanannya Osama bin Ladin.

 

·        Dr. Abdel Aziz bin Abdel Salam (dikenal juga dengan nama Sayyid Imam), kolega al-Zawahiri, dalam al-Umdah fi Idad al-Uddah (“Beberapa Isu dalam Persiapan Perang,” 1989): kaum Muslim yang tidak menggabungkan diri di dalam perjuangan melawan para pemimpin “kafir” adalah sama kafirnya dengan sang pemimpin dan harus diperangi.  (Gerges 2005: 97)

 

·        Globalisasi Jihad: Terbunuhnya `Azzam dan perubahan aliansi dari `Azzam-Osama ke Osama-al-Zawahiri.  Tubuhnya koalisi yang didominasi oleh Mesir-Saudi dalam kalangan jihadis internasional.

2 Comments

  1. infuffjes said,

    October 21, 2008 at 12:16 am

    Hey,
    I am, Charles
    great posts on here
    this is my site:

    http://p8lAdSfOS.spaces.live.com/

  2. Sujarwo said,

    July 25, 2009 at 12:04 pm

    Marilah dengan jujur dan rendah hati kita instropeksi. Dengan kepala dingin dan hati yang sejuk, kita rumuskan akar permasalahannya, sehingga dapat dicari solusinya.

    Marilah kita bersama-sama mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan yang ada.

    Perdamaian hanya dapat dicapai bila tidak ada lagi perbedaan.

    Mohon maaf sebelumnya, sejarah manusia selama 2500 tahun mencatat bahwa salah satu faktor yang menimbulkan bencana dan kekacauan bagi peradaban manusia adalah faktor agama. Dalam hal ini adalah agama abrahamik atau samawi (yahudi, kristen, islam). Sejarah dunia mencatat bahwa kekacauan, peperangan, permusuhan, dan pembunuhan, sebagian besar, terjadi karena adanya konflik antar yahudi, kristen, dan islam.

    Saya berpendapat, bahwa pada dasarnya agama mengajarkan pra-sangka & pra-duga. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hal “percaya” (belief) ataupun “bersaksi” atas sesuatu hal yang dikatakan & ditulis oleh “orang” lain yang dianggap atau dipercayai sebagai hal yang benar dan baik. Inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya perbedaan-perbedaan.

    Dari hal di atas kemudian timbul suatu pertanyaan apakah agama memang “dibutuhkan” oleh peradaban manusia?

    Saya berpendapat bahwa untuk mencapai perdamaian adalah dengan cara menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: