WAHHABISME SEBAGAI “ISLAM PURITAN”

Pointers Diskusi “Wahhabisme” Paramadina 2 (5 Januari 2007)

 

WAHHABISME SEBAGAI “ISLAM PURITAN”:

TENTANG IBN AL-WAHHAB, AJARAN WAHHABISME,

DAN AWAL PERSEKUTUANNYA DENGAN DINASTI IBN SAUD

Ihsan Ali-Fauzi

 

Nama dan Penyebutan: Wahhabisme dan Puritanisme Islam

 

Aliran Islam yang akan dibicarakan di bawah dikenal dengan beberapa nama: Wahhabiyah, al-Muwahhidun, Ahl al-Tawhid, Salafiyah, dan Islam Puritan.  Semua nama ini mengandung bias masing-masing.

 

·        Wahhabiyah, dari nama pendirinya, Muhammad ibn `abd al-Wahhab (netral?)

·        Al-Muwahhidun dan Ahl al-Tawhid (penyebutan-diri – kritik banyak orang)

·        Salafiyah (claiming – tidak semua Salafi setuju, “mengerdilkan” Salafiyah)

·        Sunni yang “keras” (penulis Barat – kritik Algar: 2-3; bukan bagian dari Aswaja, praktis “non-Syi`ah”)

·        “Islam Puritan” (Khaled Abou el-Fadl, 16-19): versus “Islam moderat.”  Alasan: “The distinguishing characteristic of this group is the absolutist and uncompromising nature of its beliefs.  In many ways, this orientation tends to be purist, in the sense that it is intolerant of competing points of view and considers pluralist realities to be a form of contamination of the unadultered truth” (p. 18).

 

Insert: Ibn `Abd al-Wahhab dan Ibn Taymiyyah (Algar)

Karena ketertarikan yang ditunjukkan Muhamad b. ‘Abd al-Wahhab pada karya-karya Ibn Taymiyah, Wahhabisme senantiasa diklaim mencerminkan kemunculan yang tertunda dari warisan Ibn Taymiyah.  Klaim ini sulit dipertahankan, kendati tidak lebih tidak beralasan daripada upaya untuk mengaitkan pendiri Wahhabisme dengan Syah Waliyullah.  Oleh sebab itu, bukan tanpa alasan jika Donald P. Little pernah menulis sebuah artikel berjudul “Apakah Ibn Taymiyah have a screw loose?”6  Namun demikian, apapun pendapat orang tentang posisi atau sikap Ibn Taymiyah, tidak diragukan bahwa ia adalah pemikir yang jauh lebih telaten dan teliti dan seorang sarjana yang jauh lebih produktif dibandingkan dengan Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab.  Lebih dari itu, perbedaan kunci antara kedua orang ini adalah bahwa kendati Ibn Taymiyah menentang aspek-aspek tertentu Sufisme pada zamannya yang ia pandang keliru atau menyimpang, namun ia tidak menolak Sufisme secara keseluruhan.  Ia sendiri adalah pelopor tarikat Qadiriyyah.  Sebaliknya, Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab menolak tasawuf secara lebih luas, akar maupun cabangnya, bukan hanya beberapa manifestasi tertentu dari tasawuf. Wahhabisme pada dasarnya adalah sebuah gerakan tanpa preseden. Gerakan ini lahir dari dunia antah-berantah, dalam arti bukan hanya muncul dari wilayah gersang Najad, tetapi juga tidak memiliki preseden yang penting dalam sejarah Islam.  (Algar, 9-10)

 

Muhamad Ibn `Abd al-Wahhab

 

Wahhabisme atau Wahhabiyah diambil dari Syeikh Muhammad ibn `Abd al-Wahhab (1703-1792), pendiri gerakan puritanisme keagamaan di Semenanjung Arabia yang pada akhirnya berujung pada pembentukan negara Islam Arab Saudi.  Ia dilahirkan pada tahun 1703 di Uyaina, sebuah kota yang sekarang ini sudah tidak ada lagi, di wilayah Najd, Arabia.  Ia memperoleh pendidikan agama, dan pernah belajar di Madinah.  Ia kemudian berkelana ke mana-mana, berkunjung dan belajar ke tempat-tempat seperti Syria, Irak, Kurdistan, dan Persia.  Ketika kembali ke Arabia, ia mulai mengajarkan bentuk Islam yang puritan, yang menyerukan kaum Muslim untuk kembali kepada dasar-dasar Islam seperti yang dikemukakan dalam al-Qur’an dan hadis, tentunya sebagaimana yang ia sendiri pahami dan tafsirkan.

 

Pada sekitar tahun 1777, ia tinggal di Dariyah, Arabia, dan di sana ibn al-Wahhab menjadi “pemimpin spiritual” keluarga besar Sa`ud.  Pada masa itu, klan Sa`ud adalah sebuah kelompok pembesar atau elite lokal yang sedang berusaha untuk memperluas pengaruh dan wewenang.  Wahhab lalu menandatangani semacam “perjanjian kerja sama” dengan Muhammad ibn Sa`ud, pemimpin klan di atas.  Ibn al-Wahhab dan pengikut-pengikutnya akan mendukung upaya-upaya keluarga ibn al-Sa`ud untuk memperluas pengaruh dan wewenang mereka, dan keluarga al-Sa`ud – sebagai konpensasinya – akan menyebarkan versi Islam Wahhabi yang puritan itu.

 

Tentang pertemuan keduanya di Oasis Dir`iyyah.  Menurut Abu Hakimah, salah satu penulis sejarah ibn al-Wahhab:

Muhammad ibn Sa`ud menyambut Muhammad ibn al-Wahhab dan berkata, “Oasis ini milikmu, dan jangan takut kepada musuh-musuhmu.  Dengan nama Allah, bahkan jika semua [orang] Najd dipanggil untuk menyingkirkan kamu, kami tidak akan pernah setuju untuk mengusirmu.”  Muhammad ibn `Abd al-Wahhab menjawab, “Anda adalah pemimpin mereka yang menetap di sini dan Anda adalah seorang yang bijak.  Saya ingin Anda menyatakan sumpah Anda kepada saya bahwa Anda akan melaksanakan jihad (perang suci) terhadap orang-orang kafir.  Sebagai imbalannya, Anda akan menjadi imam, pemimpin masyarakat Muslim, dan saya akan menjadi pemimpin dalam masalah-masalah keagamaan.  (dikutip dalam al-Rasheed, 2002: 17).

 

Dengan terbentuknya koalisi antara Ibn Sa`ud dan `Abd al-Wahhab, Wahhabiyah menjadi ideologi keagamaan bagi suatu unifikasi antarsuku di Arabia Tengah dan apa yang dapat disebut sebagai gerakan Wahhabiyah pun dimulai.  Sebagai imam kembar gerakan Wahhabiyah, Ibn Sa`ud dan `Abd al-Wahhab menjadi pemimpin spiritual dan temporal wilayah itu.

 

Banyak deskripsi mengenai keberhasilan ekspansi Wahhabi-Saudi yang awal menekankan fakta bahwa raid (apa sih terjemahannya???) sejalan dengan praktik-praktik kesukuan yang dominan kala itu.  Sekalipun mengandung kebenaran, hal ini menyepelekan pentingnya dimensi spiritual koalisi itu, yang menjadi daya tarik sedikitnya bagi sebagian pengikut Wahhabi yang awal.  Selain keuntungan material, Wahhabisme juga menawarkan penyelamatan bukan saja di dunia ini, melainkan juga di akhirat kelak.  Menurut sejarawan Madawi al-Rasheed (2002: 20), al-Wahhab membawa sesuatu yang baru, yakni pentingnya tawhid, ke dalam tradisi keislaman Najd yang sebelumnya didominasi fiqh.

 

Insert: Karya-karya Tipis ibn al-Wahhab (Algar)

Seluruh karya Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab sangat tipis, baik dari segi isi maupun ukurannya. Dalam rangka menjustifikasi pujiannya bagi Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab, al-Faruqi menambahkan daftar “isu-isu lebih lanjut” yang ia susun sendiri pada terjemahan-Inggrisnya atas setiap bab Kitab al-Tauhid. Hal ini menyiratkan bahwa seolah-olah sang pengarang, yakni Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab, pada mulanya telah mendiskusikan sejumlah “isu” yang muncul dari hadis-hadis di buku itu, yang sebenarnya tidak ia lakukan. Demikian pula, sebuah edisi Kasyf al-Syubuhat karya Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab yang diterbitkan di Riyadh pada 1388 H/1968 M memiliki catatan pada halaman judulnya, “dijelaskan secara lebih terperinci (qama bi tafsilihi) oleh ‘Ali al-Hamad al-Salihi.” Sebuah buku lain yang dinisbatkan kepada Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab, Masa’il al-Jahiliyyah (Madinah: al-Jami’ah al-Islamiyah, 1395/1975), memuat keterangan “diperluas oleh (tawassa’a fiha) al-Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi”. Di dalam kedua karya yang terakhir disebutkan itu, tidak ada petunjuk di mana kontribusi Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab berakhir, dan di mana kontribusi para pengurai atau pemberi syarah itu bermula. Tampaknya para pelindung Wahhabisme merasa malu dengan ketipisan karya Muhammd b. ‘Abd al-Wahhab, sehingga mereka memandang karya itu perlu dipertebal ukurannya.  (14-15)

 

Insert: Tentang `Abd al-Wahhab, dari sumber-sumber Arab:

·        Mendasarkan diri pada Abu Bakar untuk membakar hidup-hidup mereka yang ketahuan melakukan syirik atau bersikap munafik (p. 54-55).  Pengaruhnya terhadap Omar Abd Rahman di Afghanistan dan Irak (website mengenai penganiayaan terhadap tentara AS)

·        Mengenai pribadi `Abd al-Wahhab.  Adiknya sendiri, Sulayman ibn `Abd al-Wahhab, menulis risalah (al-Sawa’iq al-Ilahiyyah) yang mengecam kepribadian, pendidikan, dan ajaran-ajaran abangnya.  Misalnya tentang taqlid, yang sifatnya tebang pilih: ia juga taqlid kepada Ibn Taymiyah, hanya bagian-bagiannya yang keras.  Juga dalam hal al-muwahhidun (the monotheist).

 

Insert: Muthawwa`a dan Ikhwan

·        Sekalipun sekarang istilah muthawwa`a mengacu kepada profesi khusus tertentu di dalam lembaga keagamaan, pada awal pembentukannya di awal abad keduapuluh istilah ini memiliki makna yang lebih luas.  Pada 1900, seorang muthawwa` adalah anggota kelompok elite yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan keagamaan selama periode tertentu kepada seorang ulama, khususnya di kota Najd (terutama Riyadh) dan Qasim (terutama `Unayzah), yang karenanya ia kemudian menjadi spesialis dalam hukum Islam dan soal-soal yang terkait dengan ibadah ritual.  Istilah muthawwa` mengandung makna ketundukan dan pemaksaan.  Seorang muthawwa` adalah seorang yang secara sukarela mengawasi ketaatan kepada Islam dan pelaksanaan ibadah-ibadah ritual.[1]

·        Dalam proses pembentukan negara Wahhabi, peran essensial muthawa`a adalah di dalam pengawasan terhadap dilaksanakannya ritual-ritual Islam, menjadikan rezim Wahhabi sebagai rezim “discipline and punish.”  Mereka memastikan tunduk dan penerimaan penduduk Arabia terhadap otoritas politik Ibn Sa`ud.  Pendidikan mereka di madrasah-madrasah Wahhabi mengantarkan mereka kepada keyakinan tentang negara sebagai partnership antara imam yang simbolik, sebagai “pemimpin masyarakat,” dan para spesialis keagamaan.  Mereka berbagi tugas: yang pertama memberi dukungan politik bagi tugas pengawasan agama oleh kelompok yang terakhir.

·        Selain itu, peran essensial dalam pembentukan negara Wahhabi juga dimainkan oleh kelompok yang disebut Ikhwan, kekuatan militer yang dibentuk dari unsur-unsur suku, dan yang dengannya `Abd al-`Aziz berhasil menduduki Hasa.  Seorang sejarawan mendefinisikan Ikhwan sebagai: “[orang-orang] Badui yang menerima ajaran-ajaran pokok ortodoksi Islam aliran Hanbali yang disampaikan kepada mereka oleh `Abd al-Wahhab yang sudah dilupakan atau tidak lagi diacuhkan oleh bapak atau kakek mereka.  Mereka juga adalah orang-orang Badui yang, melalui pendekatan persuasif pada missionaris agama dan karena bantuan material yang disediakan untuk mereka oleh `Abd al-`Aziz, bersedia meninggalkan cara hidup nomadik mereka untuk tinggal di Hijrah yang dibangun oleh `Abd al-`Aziz khusus untuk mereka” (dikutip dalam al-Rasheed, 2002: 59)

 

Beberapa Ajaran Pokok Wahhabisme

 

1.      Kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang asli, seperti yang ada dalam al-Qur’an dan hadis;

2.      Kebutuhan untuk menyatukan iman dan perbuatan;

3.      Pelarangan atas semua pandangan dan praktik yang tidak ortodoks.  Hal ini menyebabkan Wahhab untuk sepanjang hidupnya memerangi praktik-praktik seperti penyembahan kepada para wali dan ziarah ke makam-makam dan tempat-tempat keramat untuk memperoleh berkah;

4.      Pembentukan sebuah negara Islam yang secara khusus akan didasarkan kepada penerapan hukum-hukum agama.  Sejauh keluarga Sa`ud berhasil memperluas pengaruh dan wewenangnya di Arabia, sesuatu yang mendekati sebuah negara Islam sudah terbentuk.

 

Muhammad ibn `Abd al-Wahhab membentuk sebuah gerakan yang pengaruhnya lebih besar dari sekadar berdirinya Arab Saudi sekarang ini.  Pengaruh Wahhabi telah menyebar ke seluruh dunia Islam bahkan hanya lewat ekspose versi Islam ini kepada jutaan jamaah haji yang pergi ke Mekkah setiap tahunnya.  Wahhabi mengajarkan bahwa kaum Muslim yang benar harus memiliki kepedulian terhadap politik dan jalannya pemerintahan di sebuah negara.  Jika para penguasa mereka gagal bertindak dan berperilaku sebagai Muslim yang baik, jika mereka gagal membangun suatu negara di mana hukum-hukum Syari`ah dilembagakan dan dijalankan, maka setiap Muslim memiliki kewajiban keagamaan untuk menggantikan penguasa itu dan pemerintahannya yang tidak Islami.  Sekalipun corak khusus keislaman versi al-Wahhab yang puritan itu bukan merupakan tujuan akhir semua pembaru Muslim dewasa ini, pesan-pesannya mengenai aktivisme politik dan kaitan antara iman dan perbuatan jelas sudah tertanam dalam.

 

Insert: Beberapa Ciri Wahhabisme (el-Fadl)

·        Islam yang sederhana; warna Arab (suku badui) yang kuat: mencurigai apa saja yang tidak datang dari Arab: filsafat (Yunani); mistisisme (Persia); praktik sufi dan silsilah (Turki);

·        Pluralisme sebagai sebab perpecahan umat Islam; atau Islam atau kafir, tidak ada Islam yang tengah; Muslim yang dianggap bukan Muslim dikafirkan, dan darahnya dianggap halal

·        Penafsiran literal terhadap sumber agama: penggunaan pikiran dicerca; Fakhruddin al-Razi, misalnya, masuk ke dalam kelompok kuffar.

·        Pemiskinan intelektual karena kembali ke al-Qur’an dan Sunnah: anti-fikih klasih dan tidak ada apresiasi terhadap sejarah Islam;

·        Kreativitas dan kesenangan pada musik atau puisi, misalnya, dianggap bagian dari praktik menyekutukan Tuhan.  Implikasi paling akhir: penghancuran patung-patung Budha di Bamiyan oleh pemerintahan Taliban.

·        Doktrin al-wara’ wa al-bara’ (loyalitas dan disosiasi): jangan berteman, berskutu dan meniru musuh non-Islam dan Muslim heretik, musyrik. Sampai yang kecil-kecil: tidak boleh menjawab salam; menyebut panggilan “saudara” dan lainnya.  Pengaruh belakangan: pandangan Sayyid Quthb bahwa sekarang adalah jahiliyah qarn al-`isyrin.

·        Anti Kekaisaran Turki Utsmani; karena alasan etnosentrisme

·        Kesederhanaan, ketegasan, dan absolutisme: attraktif bagi pola hidup suku Badui

 

Insert: Beberapa contoh inkonsistensi, menurut el-Fadl (p. 53)

·        While condemning all cultural practices and insisting on strict submission to Islam, in reality Wahhabism was thoroughly a construct of its own culture – that is, the Bedouin culture of the Najd region of Arabia (part of the modern-day Saudi Arabia).

·        While insisting that there was only one true Islam, in reality Wahhabism universalized its own culture and declared it to be the one true Islam.

·        While consistently condemning non-Muslim influences and rejecting any form of cooperation with the West, in reality Wahhabis were incited and supported by English colonialists to rebel against the Ottomans, which effectively meant that Wahhabis side with non-Muslim Englishmen against their Muslim Ottoman enemies.

·        Moreover, while condemning all forms of nationalism as an evil Western invention, in reality Wahhabism was a pro-Arab nationalistic movement that rejected Turkish dominance over Arabs under the guise of defending the one true Islam.

·        Fundamentally, while the Wahhabis of the eighteenth century took the culture of the Bedouin od Najd and universalized it into the Islam, the Wahhabis of today take the culture of Saudi Arabia and universalize it into the singularly true Islam.

 


 

 

NAMA WAHHABISME: “Apa yang disajikan ke hadapan pembaca ini adalah semacam survei terbatas menegnai sejarah, doktrin dan arti penting Wahhabisme dewasa ini.  Orang-orang yang bersimpati pada ajaran-ajaran yang disebut sebagai Wahhabisme di sini tentu mungkin keberatan dengan penggunaan penamaan tersebut, karena istilah itu diberikan oleh orang-orang yang berada di luar gerakan tersebut, dan kerap kali dengan makna yang terkesan buruk.  Kaum Wahhabi sendiri lebih memilih istilah al-Muwahhidun atau Ahl al-Tawhid untuk menamakan kelompok mereka.  Namun, nama yang mereka gunakan sendiri itu justru mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip tawhid, yang merupakan landasan Islam itu sendiri.  Hal ini menyiratkan pengabaian terhadap seluruh kaum Muslim yang lain, yang mereka cap telah melakukan syirik.  Tidak ada alasan untuk menerima monopoli atas prinsip tawhid tersebtu, dan karena gerakan yang menjadi pokok pembahasan ini merupakan karya seorang manusia, yakni Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab, maka cukup beralasan dan lazim untuk menyebut mereka “Wahhbisme” dan “kaum Wahhabi”.  (Algar, 2003: 1-2)

 

GERAKAN MARGINAL/BUKAN SUNNI: Ada dua catatan pendahuluan lainnya.  Pertama, dalam sejarah pemikiran Islam yang telah berlangsung lama dan sangat kaya, Wahhabisme tidak menempati tempat yang khususnya penting.  Secara intelektual marjinal, gerakan Wahhabi memiliki nasib baik muncul di Semenanjung Arab (meski di Najad, sebuah tempat yang relativ jauh dari semenanjung itu) dan karena itu dekat dengan Haramayn, yang secara geografis merupakan jantung dunia Muslim.  Keluarga Saudi, yang menjadi patron gerakan Wahhabisme, bernasib baik ketika pada abad keduapuluh mereka memperoleh kekayaan minyak yang luar biasa, yang sebagiannya telah digunakan untuk menyebarluaskan Wahhabisme di dunia Muslim dan lainnya. Jika tidak ada dua faktor tersebut, Wahhabisme mungkin saja hanya dicatat dalam sejarah sebagai gerakan sektarian yang marjinal dan berumur pendek.  Kedua faktor yang sama pula, yang diperkuat dengan adanya sejumlah kesamaan dengan kecenderungan-kecenderungan kontemporer lainnya di dunia Islam, telah menyebabkan Wahhabisme dapat bertahan lama.  (Algar, 2003: 2)

 

BUKAN SUNNI: Kedua, Wahhabisme adalah sebuah fenomena yang sepenuhnya unik, yang perlu disebut sebagai suatu aliran pemikiran atau bahkan sekte tersendiri.  Kadang kaum Wahhabi dicirikan, khususnya oleh para pengamat non-Muslim yang mencari deskripsi ringkas mengenainya, sebagai kaum Sunni yang “ekstrem” atau sebagai kaum Sunni yang “konservatif,” dengan kata-kata sifat seperti “stern” atau “austere” ditambahkan di belakangnya, untuk memberi ukuran yang lebih pasti.  Namun, kalangan Sunni yang jauh lebih dikenal sudah lama mengamati bahwa kaum Wahhabi, sejak pertamakali aliran mereka dikumandangkan, tidak bisa dimasukkan sebagai bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.  Hal itu karena hampir semua praktik, tradisi dan keyakinan yang dikecam oleh Muhammad b. `Abd al-Wahhab sudah lama diakui sebagai bagian integral dari Islam Sunni, diuraikan dalam banyak sekali literatur dan diterima oleh sebagian besar kaum Muslim.  Persis karena alasan ini, maka banyak ulama yang hidup pada masa ketika Wahhabisme pertamakali dikampanyekan mengecam pendukungnya sebagai bukan bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.  Bahwa sekarang Wahhabisme dipandang sebagai bagian dari Sunni, hal itu menunjukkan bahwa istilah “Sunni” mulai memperoleh makna yang luar biasa loose…. (Algar, 2003: 2-3)

 

Pembentukan Negara Wahhabiyah

 

TIGA PERIODE PEMBENTUKAN NEGARA WAHHABI:

Negara Wahhabi pertama (1745-1818) yang gagal;

negara Wahhabi yang kedua yang juga gagal (1824-1891);

pembentukan negara Saudi yang bertahan hingga sekarang (berdiri pada 1902 dan terus hingga 1932)

 

 

Mereka dengan sengaja mengaitkan gerakan mereka dengan kaum Khawarij, kelompok puritan dan ekstremis pertama dalam sejarah Islam, dan seperti kelompok pendahulunya yang fanatik itu, mereka memfokuskan kemarahan mereka pertama-tama ke dalam, untuk menghancurkan apa yang mereka pandang sebagai sebab-sebab kemunduran kaum Muslim.  Karena itu, mereka mulai memerangi suku-suku yang ada di sekeliling mereka dan memaksa suku-suku tersebut untuk mengikuti versi Islam mereka.

 

Di bawah kepemimpinan militer `Abd al-`Aziz, anak Muhammad ibn Sa`ud, mereka mulai ekspansi mereka ke Riyadh, Kharj, dan Qasim di wilayah Arabia Tengah pada 1792.  Setelah berhasil menduduki wilayah itu, mereka melanjutkan ekspansi ke timur ke Hasa, dan menghancurkan kekuasaan Banu Khalid di wilayah itu.  Para pengikut Syi`ah di kawasan ini, yang jumlahnya cukup banyak, dipaksa untuk menyerah dan mengikuti Wahhabisme atau dibunuh.  Lalu, ekspansi dilanjutkan ke Teluk Persia dan Oman: Qatar mengakui kekuasaan Saud-Wahhabi pada 1797, dan Bahrain menyusul tak lama kemudian.  Mereka semua diwajibkan untuk membayar zakat ke Dir`iyyah.

 

Ekspansi awal Wahhabi-Saudi yang menentukan berlangsung ke barat, khususnya ke Hijaz, di mana dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, berada.  Dalam ekspansi ini mereka berhadapan dengan otoritas keagamaan yang lain, yakni Syarif Mekkah, yang memperoleh legitimasinya dari Khalifah Turki Usmani.  Terlepas dari upaya keras orang-orang Hijaz untuk bertahan, koalisi Wahhabi-Saud berhasil memantapkan hegemoni mereka di Ta’if pada 1802, Mekkah pada 1803, dan Madinah setahun kemudian.  Setelah kemenangan itu, para ulama Wahhabi memerintahkan penghancuran kubah yang ada di makam-makam Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Madinah.

           

Kemenangan di Hijaz mendorong koalisi Wahhabi-Sa`ud untuk meneruskan ekspansi ke wilayah selatan ke `Asir, di mana para pemimpin lokalnya segera memeluk Wahhabisme dan ikut serta dalam ekspansi selanjutnya ke Yaman.  Kuatnya pertahanan orang-orang Yaman, ditambah dengan kondisi geografis yang kurang dikuasai pasukan Wahhabi, membuat Yaman tidak berhasil ditundukkan sepenuhnya.

 

Ekspansi lain mencapai ladang subur Mesopotamia, sekaligus mengancam bagian-bagian penting daerah kekuasaan Turki Usmani, Pada 1802, di hari suci `Asyura, mereka melabrak tembok Karbala dan membunuh 2.000-an pengikut Syi`ah yang sedang bersehbahyang sambil merayakan Muharram.  Dengan kemarahan yang tak terkontrol, mereka menghancurkan makam-makam Ali, Husayn, imam-imam Syi`ah, dan khususnya kepada makam puteri Nabi Fatimah.

 

KEBRUTALAN SA’UD DI KARBALA: Laporan hidup mengenai kebrutalan tersebut, yang diberikan oleh pencatat sejarah Saudi, ‘Utsman b. ‘Abdullah b. Bisyr, dalam `Unwan al-Majd fi Tarikh Najd:

Pada tahun 1216 Sa’ud [anak ‘Abd al-‘Aziz] mulai bergerak dengan dukungan tentara dan pasukan kavaleri yang direkrutnya dari kalangan penduduk kota maupun suku-suku nomaden di Najad, dari wilayah selatan, dari Hijaz, Tihama dan tempat-tempat lainnya.  Ia mencapai Karbala dan mulai memerangi penduduk kota al-Husayn itu.  Ini terjadi pada bulan Dzu’l-Qa’da.  Kaum Muslim [yakni, kaum Wahhabi] menaiki tembok, memasuki kota secara paksa, dan membunuh mayoritas penduduknya di pasar-pasar maupun di rumah-rumah mereka.  Lalu mereka menghancurkan kubah di atas makam al-Husayn yang dibangun oleh orang-orang yang percaya dengan hal-hal semacam itu.  Mereka mengambil apa saja yang ada di dalam kubah itu dan di sekelilingnya.  Mereka mengambil pagar-pagar teralis di sekeliling kubah itu, yang dihiasai dengan batu emerald, batu ruby dan batu-batu permata lainnya.  Mereka menjarah apa saja yang ada di kota itu: berbagai macam harta-benda, senjata, pakaian, karpet, emas, perak, salinan-salinan al-Quran yang indah, dan benda-benda lainnya yang tak terbilang.  Mereka tinggal di Karbala hingga pagi hari, dan pada siang harinya mereka pergi dengan membawa segala macam harta-benda yang telah mereka kumpulkan, dan mereka telah membunuh sekitar dua ribu orang.  Lalu Sa’ud pergi meninggalkan kota itu melewati jalan Ma’ al-Abyad.  Di hadapan Sa’ud terkumpul harta jarahan.  Ia mengambil untuk dirinya sendiri seperlima bagian dari harta jarahan tersebut, lalu membagikan sisanya di antara kaum Muslim [yakni, kaum Wahhabi], dengan satu bagian untuk para prajurit pejalan kaki dan dua bagian bagi para prajurit berkuda.  Lalu ia pulang ke rumah. (Dikutip dalam Algar, 2003: 24-25)

 

Hal ini membuat marah pengikut Syi`ah, dan pada 1803, pemimpin klan Saudi `Abd al-`Aziz dibunuh oleh seorang pengikut Syi`ah di sebuah masjid di Dir`iyyah (al-Rasheed, 2002: 22).

 

Terlepas dari itu, kaum Wahhabi terus melanjutkan gerakan mereka ke utara menuju Mesopotamia dan jantung Kekaisaran Turki Usmani.  Baru pada titik inilah mereka memperoleh perhatian dari Khalifah Turki Usmani.  Pada 1818, Perdana Menteri Mesir, Muhammad Ali (1769-1849), atas persetujuan Khalifah Usmani, mengirim pasukannya ke Semenanjung Arabia.  Tentara Mesir ini dengan mudah mengalahkan kaum Wahhabi yang sebenarnya miskin peralatan perang dan kurang terlatih.  Kedua kota suci Mekkah dan Madinah kembali berada di bawah kekuasaan Syarif dan kaum Wahhabi dipaksa untuk mundur ke Najd, menandai berakhirnya upaya pembentukan negara Wahhabi yang pertama.

 

Setelah tentara Mesir mundur, upaya pembentukan negara Wahhabi kembali dilakukan koalisi Wahhabi-Saud pada 1824, ketika Turki ibn `Abdullah, anak penguasa Sa`udi yang dihukum mati oleh Khalifah Usmani, kembali ke Riyadh.  Setelah menduduki Riyadh, ekspansinya berlanjut ke `Arid, Kharj, Hutah, Mahmal, dan daerah-daerah lain sekitar itu.  Pada 1830, ia berhasil memapankan otoritasnya di wilayah Hasa.

 

Sekalipun seorang imam Wahhabi tulen, Turki sebenarnya cukup hati-hati untuk tidak mengganggu otoritas Usmani-Mesir dalam mengelola jamaah haji di Hijaz.  Upayanya untuk kembali membentuk sebuah negara Wahhabi gagal bukan karena serangan Turki Usmani, melainkan karena konflik-konflik internal di antara para pemimpin klan Sa`ud sendiri.  Karena alasan ini, otoritas mereka dikalahkan oleh klan Rasyidi.

 

Upaya untuk kembali mendirikan sebuah negara Wahhabi, dan kali kini berhasil, berlangsung di awal abad keduapuluh, persisnya di tahun 1902, di bawah komando Abd al-Aziz (1880-1953), anak Ibn Saud yang sebelumnya mengasingkan diri ke Kuwait.  Sekali lagi, sebuah aliansi antara keluarga kerajaan dan para ulama Wahhabi menjadi kunci keberhasilannya.  Dalam konteks ini, dua institusi esensial harus disebutkan: muthawwa`a dan Ikhwan.

 

Sekalipun sekarang istilah muthawwa`a mengacu kepada profesi khusus tertentu di dalam lembaga keagamaan, pada awal pembentukannya di awal abad keduapuluh istilah ini memiliki makna yang lebih luas.  Pada 1900, seorang muthawwa` adalah anggota kelompok elite yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan keagamaan selama periode tertentu kepada seorang ulama, khususnya di kota Najd (terutama Riyadh) dan Qasim (terutama `Unayzah), yang karenanya ia kemudian menjadi spesialis dalam hukum Islam dan soal-soal yang terkait dengan ibadah ritual.  Istilah muthawwa` mengandung makna ketundukan dan pemaksaan.  Seorang muthawwa` adalah seorang yang secara sukarela mengawasi ketaatan kepada Islam dan pelaksanaan ibadah-ibadah ritual.[2]

 

Dalam proses pembentukan negara Wahhabi, peran essensial muthawa`a adalah di dalam pengawasan terhadap dilaksanakannya ritual-ritual Islam, menjadikan rezim Wahhabi sebagai rezim “discipline and punish.”  Mereka memastikan tunduk dan penerimaan penduduk Arabia terhadap otoritas politik Ibn Sa`ud.  Pendidikan mereka di madrasah-madrasah Wahhabi mengantarkan mereka kepada keyakinan tentang negara sebagai partnership antara imam yang simbolik, sebagai “pemimpin masyarakat,” dan para spesialis keagamaan.  Mereka berbagi tugas: yang pertama memberi dukungan politik bagi tugas pengawasan agama oleh kelompok yang terakhir.

 

Selain itu, peran essensial dalam pembentukan negara Wahhabi juga dimainkan oleh kelompok yang disebut Ikhwan, kekuatan militer yang dibentuk dari unsur-unsur suku, dan yang dengannya `Abd al-`Aziz berhasil menduduki Hasa.  Seorang sejarawan mendefinisikan Ikhwan sebagai:

 

[orang-orang] Badui yang menerima ajaran-ajaran pokok ortodoksi Islam aliran Hanbali yang disampaikan kepada mereka oleh `Abd al-Wahhab yang sudah dilupakan atau tidak lagi diacuhkan oleh bapak atau kakek mereka.  Mereka juga adalah orang-orang Badui yang, melalui pendekatan persuasif pada missionaris agama dan karena bantuan material yang disediakan untuk mereka oleh `Abd al-`Aziz, bersedia meninggalkan cara hidup nomadik mereka untuk tinggal di Hijrah yang dibangun oleh `Abd al-`Aziz khusus untuk mereka. (Dikutip dalam al-Rasheed, 2002: 59)

 

Selain kedua kekuatan itu, aliansi Wahhabi-Sa`ud kali ini juga dibantu pasukan asing.  Ketika seabad sebelumnya tentara Mesir kembali dari menduduki-kembali tanah suci, para penguasa Saudi-Wahhabi menarik pelajaran berharga bahwa mereka tidak akan pernah dapat menaklukkan Kekhalifahan Turki Usmani dengan tangan mereka sendiri.  Mereka membutuhkan aliansi yang jauh lebih kuat dibanding aliansi yang telah mereka bangun sendiri.  Kesempatan untuk membangun aliansi seperti ini memperoleh momentum dengan ditandatanganinya Perjanjian Inggris-Saudi pada 1915.  Inggris, yang bernafsu untuk menguasai Terusan Suez, mendorong pembesar Saudi untuk menguasai kembali Semenanjung Arabia dari tangan Turki Usmani.  Untuk membantu pemberontakan mereka, Inggris secara reguler mengirim bantuan senjata dan uang.  Di penghujung Perang Dunia Pertama, ketika kebesaran Kekhalifahan Usmani mulai rontok dan kekhalifahan itu sendiri dihapuskan, ibn Saud berhasil menaklukkan kembali Mekkah dan Madinah dan, sekali lagi, mengusir sang Syarif.  Kemudian, setelah secara publik mengeksekusi 40.000 orang dan memaksakan kembali paham Wahhabiyah di seantero negeri, Abd al-Aziz ibn Saud memberi nama baru kepada Semenanjung Arabia: “Kerajaan Arab Saudi.”

 

Tak lama kemudian, minyak ditemukan di ranah itu, menjadikan Arab Saudi negeri kecil yang kaya raya  XXXXXX  INI PANJANG LAGI CERITANYA.  NANTI SAJA DI VERSI BUKU YA. 

 




[1]Menurut sejarawan al-Rasheed, muthawwa` adalah fenomena unik Islam Najd.  Mereka berbeda dari para ahli agama di dunia Islam lain yang sering disebut ulama.  Di Najd pada masa itu, mereka yang disebut ahli dalam bidang agama peduli hanya kepada fiqh/`ibadah, dan memandang bahwa mempelajari masalah-masalah lain adalah sebuah kemewahan intelektual yang juga tidak dibutuhkan masyarakat mereka.  Lihat al-Rasheed, 2002: 49.

[2]Menurut sejarawan al-Rasheed, muthawwa` adalah fenomena unik Islam Najd.  Mereka berbeda dari para ahli agama di dunia Islam lain yang sering disebut ulama.  Di Najd pada masa itu, mereka yang disebut ahli dalam bidang agama peduli hanya kepada fiqh/`ibadah, dan memandang bahwa mempelajari masalah-masalah lain adalah sebuah kemewahan intelektual yang juga tidak dibutuhkan masyarakat mereka.  Lihat al-Rasheed, 2002: 49.

6 Comments

  1. Sujarwo said,

    July 25, 2009 at 12:03 pm

    Marilah dengan jujur dan rendah hati kita instropeksi. Dengan kepala dingin dan hati yang sejuk, kita rumuskan akar permasalahannya, sehingga dapat dicari solusinya.

    Marilah kita bersama-sama mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan yang ada.

    Perdamaian hanya dapat dicapai bila tidak ada lagi perbedaan.

    Mohon maaf sebelumnya, sejarah manusia selama 2500 tahun mencatat bahwa salah satu faktor yang menimbulkan bencana dan kekacauan bagi peradaban manusia adalah faktor agama. Dalam hal ini adalah agama abrahamik atau samawi (yahudi, kristen, islam). Sejarah dunia mencatat bahwa kekacauan, peperangan, permusuhan, dan pembunuhan, sebagian besar, terjadi karena adanya konflik antar yahudi, kristen, dan islam.

    Saya berpendapat, bahwa pada dasarnya agama mengajarkan pra-sangka & pra-duga. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hal “percaya” (belief) ataupun “bersaksi” atas sesuatu hal yang dikatakan & ditulis oleh “orang” lain yang dianggap atau dipercayai sebagai hal yang benar dan baik. Inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya perbedaan-perbedaan.

    Dari hal di atas kemudian timbul suatu pertanyaan apakah agama memang “dibutuhkan” oleh peradaban manusia?

    Saya berpendapat bahwa untuk mencapai perdamaian adalah dengan cara menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan tersebut.

  2. kaum puritan said,

    September 7, 2009 at 9:31 pm

    hidup kaum puritan !!!

  3. inchen purba said,

    August 5, 2011 at 4:34 am

    sebenarnya Muhammadiyah itu moderat atau puritan ya?

  4. wong Djowo said,

    December 21, 2011 at 8:03 am

    Nahdlatul Ulama ( NU ) itu Moderat
    Muhammadyah itu Moderat berbasis Puritan ( terbukti masih bisa beradaptasi dan toleran di tengah perbedaan didalam negri ini; inikan ciri khas gaya moderat )

  5. Abu Prismanda said,

    December 31, 2011 at 5:06 pm

    Justru puritan itu moderat, kecuali definisi moderat dibuat oleh yang anti puritan. Saya yakin moderasi yang berstandar samawi pasti benar, tapi kalau sudah dipaksakan supaya cocok dengan kemauan mayoritas penduduk bumi………… yah seperti sekarang ini. Yang bisa diterima yang ikut kemauan pasar ! Maju terus puritan jangan terpengaruh DEFINISI

  6. hadi said,

    November 4, 2015 at 6:11 pm

    belajar belajar dan belajar sampai ajal menjelang
    mohon ampun 3x sampai ajal menjelang
    sekali lagi bukan nafsu kebencian yang ditanamkan
    maka bertaubatlah wahai saudara saudariku dari pemahaman yang keliru


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: