ZAKAT DAN WAKAF UNTUK JIHAD ?

Pointers Diskusi Wahhabisme XI (9/10 Maret 2007) — DRAFT

ZAKAT DAN WAKAF UNTUK JIHAD?:

KONTEKS GLOBAL DARI SALAFISME-JIHADISME LOKAL

Ihsan Ali-Fauzi

Pendahuluan

Kita hendak melihat atau menaksir sejauh mana naiknya salafis-jihadis (lihat di bawah) di Indonesia terkait dengan fenomena serupa di tingkat global, khususnya di Timur Tengah. Faktor-faktor global apa saja (baik dalam bentuk perangkat lunak seperti ideologi maupun perangkat keras seperti organisasi dan pendanaan) yang turut menopang menggejalanya aksi-aksi kekerasan oleh kaum Muslim di tanahair?

Food for thought: Dua hari lalu koran-koran memberitakan pertemuan Dubes Arab Saudi dan Presiden SBY. Dilaporkan, Arab Saudi dan Indonesia akan bekerjasama dalam “pengembangan dan penyebaran pendidikan serta pemikiran Islam yang moderat.” Demikian, karena “pengembangan pemikiran Islam radikal dinilai justru dapat merusak dakwah dan pemikiran Islam itu sendiri” (Kompas, 6 Maret 2007). Bagaimana kita menanggapi berita ini? Jika kita diundang SBY menasihatinya, apa saran yang harus kita sampaikan? Apakah penyebaran dan pengembangan pemikiran Islam moderat bisa berjalan beriringan dengan penyebaran Wahhabisme, doktrin resmi Kerajaan Arab Saudi? Nah!

Klarifikasi I: Islamis, Salafis, Salafis-Jihadis

· Tidak boleh pukul rata. Kadang-kadang distingsinya sulit dibuat dengan definitif.

· Kecuali mereka yang mengaku “Muslim sekular” (yang mungkin bisa kita sebut “Islam KTP”) semua orang Islam yang serius dengan keberislaman mereka adalah Islamis, dalam pengertian bahwa semua mereka memandang Islam sebagai sekaligus din, dunya, dan dawlah (3D, agama, dunia, negara), mencakup segala aspek kehidupan, sebuah sistem yang total (al-nizham al-islami). Penting dicatat: mereka terpecah ke dalam bagaimana kelengkapan Islam ini diterjemahkan ke dalam realitas konkret. Yang paling tegas, mereka dipisahkan ke dalam kaum Muslim substansialis” dan “literalis.” Biasanya, yang literalis merasa bahwa Islam harus diejawantahkan lewat penguasaan umat Islam atas posisi-posisi kekuasaan. Lalu, yang terakhir ini lebih jauh dibagi ke dalam dua kelompok, menurut pandangan mereka tentang bagaimana kekuasaan itu diraih: (1) dari bawah dan (2) dari atas.

· Salafis: Muslim yang berpandangan bahwa penguatan kembali Islam dewasa ini harus dilakukan dengan mencontoh generasi awal Muslim (ahl al-salaf). Namun belakangan, istilah ini “didominasi” pemaknaannya oleh kaum Wahhabi, yang mendaku sebagai pewaris tunggal ahl al-salaf. Maka kita sering mendengar bagaimana kata ini digunakan untuk merujuk kepada kaum Muslim yang bersikap puritan dan eksklusif, fitur menonjol Wahhabisme. Mereka hendak melakukan de-link dengan kebudayaan lokal, dalam rangka purifikasi.

· Salafis-Jihadis: kaum Muslim dalam kelompok kedua di atas, plus kesediaan untuk melakukan jihad dalam mencapai tujuannya. Olivier Roy menyebut mereka sebagai kelompok “Neo-fundamentalis.” Mereka pun terbagi ke dalam beberapa golongan, seperti sudah saya kemukakan dalam diskusi pekan lalu. Oleh kalangan Islamis yang menolak doktrin jihad versi mereka, kelompok ini dilecehkan sebagai “mereka yang suka perang” (al-muharribun). Bubalo dan Fealy: While the line between sectarian violence and terrorism is by no means clear cut, it is a distinction that salafist themselves make; that is, some salafists see their participation in sectarian violence as legitimate but would draw the line at what they consider an act of terrorism. Indeed, despite the fact that some Indonesian terrorist groups – such as JI [Jamaah Islamiyah] – call themselves salafists, there are sharp differences between them and mainstream salafists” (2005: 78).

· Concern kita terutama pada yang terakhir, yang jelas-jelas merusak baik Islam maupun Indonesia.

Klarifikasi II: Zakat dan Wakaf untuk Jihad?

· Kita juga harus ekstra hati-hati di dalam mengatributkan zakat atau wakaf, atau apa pun namanya, yang diberikan oleh seorang Muslim di mana saja kepada aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh seorang Muslim lain yang menjadi penerima pemberian di atas. Ada dua masalah kompleks di sini: (1) menyangkut intended dan unintended consequences dari sebuah tindakan; dan (2) menyangkut kesengajaan satu atau kedua belah pihak di dalam menyalahgunakan dana bantuan yang secara terbuka dimaksudkan untuk mencapai satu tujuan.

· Pada 8 November 2002, Pangeran Salman bin Abd al-Aziz, Gubernur Riyadh, menyatakan: “Ketika seseorang memberi zakat kepada seorang miskin, ia tidak dapat mengajukan syarat-syarat tentang bagaimana si miskin itu akan memanfaatkan uang yang diberikan kepadanya. Jika uang itu digunakan untuk melakukan aksi-aksi kejahatan tertentu, maka hal itu bukanlah tanggung jawab si pemberi dana” (dikutip dalam Burr and Collins, 2006: 26). Pernyataan ini disampaikan sebagai reaksi atas tuduhan, yang deras mengalir pasca-September 11, bahwa pemerintah Arab Saudi memberi dana kepada para teroris Islam.

· Kita juga harus ekstra hati-hati dalam memberi penilaian, karena kita sedang bekerja dalam wilayah yang sangat “abu-abu” menyangkut hubungan antara isi pikiran dan tindakan. Dari Wahhabisme dan Ikhwanul Muslimin ke tindakan kekerasan atas nama Islam: jahiliyah, takfir, jihad.

· Kita juga harus mempertimbangkan sebab-sebab non-ideologis dari kekerasan Salafis-Jihadis di Indonesia. Pertanyaannya: kalau paham keislaman yang puritan, totalitarian, dan pro-kekerasan itu begitu dominan di kalangan kaum Muslim di Indonesia, mengapa mainstream umat Islam di Indonesia masih percaya pada dakwah (non-kekerasan) sebagai cara berislam, padahal buku-buku salafis-jihadis dibaca luas?

Konteks Global dan Lokal

· Kita juga harus menghindar dari pandangan bahwa semuanya ini terjadi karena faktor eksternal atau, sebaliknya, faktor internal saja. Penting untuk mempertimbangkan interaksi antara kedua faktor: global dan lokal (nasional).

· Hefner tentang dinamika “lokal”: Dalam “Muslim Democrats and Islamist Violence in Post-Soeharto Indonesia” (2005), Robert W. Hefner mencoba menunjukkan bahwa naiknya jihadis pro-kekerasan di kalangan kaum Muslim Indonesia terkait dengan dua hal pokok: (1) kualitas perpolitikan kaum Muslim dan (2) warisan otoritarianisme rezim Orde Baru. Bukti-bukti yang dikedepankannya menunjukkan bahwa “the most critical obstacle to democratic transition has had as much to do with the legacies of Indonesian state and society as it has any specific quality of Muslim politics. Certainly, some features of contemporary Indonesian politics, such as the ideals of the jihadi movement, can only be fully explained with reference to the pluralism and contests of Muslim politics. But the specific affect of these variables was determined by two more general features of state-society relations: the relative weakness and segmentary divisions of civil society, and the habit of some in the political elite (both at the national and provincial level) of neutralizing their opposition by inflaming sectarian passions and mobilizing supporters along ethnoreligious lines” (2005: 275). Hefner menyebut kecenderungan terakhir itu sebagai “sectarian trawling across the state-society divide” (2005: 275). Bagi Hefner, inilah sebab mengapa sekelompok kecil militan bersenjata bisa memiliki pengaruh yang tidak sebanding dengan jumlah mereka yang sesungguhnya.

· Hefner tentang dinamika global: Sejak 1990-an, dua sebab internal di atas diperparah dengan faktor ketiga yang sifatnya global, yakni “the expansion of armed Islamic groupings with ties to al-Qaeda into the country” (2005: 275). Namun ia juga mengingatkan: “Nonetheless, in Indonesia if not the southern Philippines, al-Qa’ida has until recently been a secondary influence on Islamist paramilitarism by comparison with the paramilitarist’ domestic sponsors.” Secara keseluruhan ia melihat: “The rapid spread of religious violence and the state’s inability to contain it caught the mainstream Muslim leadership off guard and momentarily allowed the radicals to scale up their influence in society” (Hefner 2005: 275).

Keterkaitan Lokal dan Global: Para Aktor

Laskar Jihad (LJ)

· Berdiri pada Februari 2000, dengan fatwa dari Timur Tengah.

· Dipimpin Jafar Umar Thalib (lahir Desember 1961): keturunan Arab; belajar di LIPIA pada 1980-an; bekerja di DDII antara 1983-1984; memperoleh beasiswa DDII untuk belajar ke Arab Saudi pada 1984; atas dukungan Liga Dunia Islam, berangkat ke Afghanistan pada 1986, di mana ia bertemu sebentar dengan Osama bin Ladin; antara 1989 dan 1993, ia pergi beberapa kali ke Yaman untuk meneruskan belajar; 1993, kembali ke Indonesia dan mendirikan sebuah pesantren di sebelah utara Yogyakarta.

· Tentang pesantren Jafar: khusus untuk mahasiswa kelas menengah yang aktif di halaqah, yang belakangan berkembang menjadi usroh mengikuti model Ikhwanul Muslimin; tiap usroh terdiri dari lima hingga 15 orang dengan seorang pemimpin, yang mengadakan pertemuan mingguan; para anggotanya mengenakan pakaian khas Salafi gaya Asia Selatan, dilarang menjalin hubungan dengan “orang kafir.”

· Jafar tentang Osama dan AS: Kepada Hefner, ia menyatakan tidak pernah bekerjasama dengan Osama, melainkan dengan sebuah faksi Mujahidin yang erat hubungannya dengan pemerintahan Saudi. Setelah September 11, ia secara terbuka mengambil jarak dari Osama, bukan karena serangannya ke AS, melainkan karena oposisi Osama terhadap pemerintahan Saudi.

· Kedua terbesar setelah FPI. Pada puncaknya, September 2001, memiliki 2.000 ,ujahid di Maluku, 400 hingga 1.000 di Sulawesi Tengah, dan beberapa ratus di Papua

· Yang paling baik pendanaannya dan organisasinya. Sayap militer Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah (FKAW), yang didirikan di Yogyakarta pada 1994.

· Melawan apa yang mereka pandang sebagai agresi Kristen di Maluku dan Sulawesi Tengah.

· Hubungan dengan faksi militer di Indonesia: Laporan ICG (2002)

· Hefner: Jafar anti para aktivis demokrasi Muslim, dan punya hubungan dekat dengan beberapa pejabat tinggi di Jakarta. Tuduhan yang dikutip Hefner (2005: 288): seorang anggota keluarga istana telah mendanai pesantren yang dikelola Jafar pada 1994. Jafar menolak tuduhan ini.

· Hefner: Sejak akhir 1999 dan seterusnya, terjadi kontak-kontak intensif antara Jafar dan wakil sebuah faksi militer di Jakarta. Seorang bekas komandan tingkah menengah di LJ, setelah keluar dari LJ, mengakui pada Hefner bahwa kontak-kontak di atas berlangsung meningkat pada Januari 2000, ketika beberapa purnawirawan ABRI (TNI), yang punya hubungan dengan perwira yang masih menjabat, menghubungi Jafar, menunjukkan padanya bahwa mereka bersedia mendukung upaya Jafar untuk memobilisasi kaum Muslim di Maluku.

Front Pembela Islam (FPI)

· Bagaimana dengan Front Pembela Islam (FPI)? Sama sekali tidak ada kaitan?

· Beberapa fakta: Dipimpin keturunan Arab juga; dekat dengan tentara (Hefner: pam swakarsa bikinan Wiranto); pasukan paramiliter Islam terbesar di Indonesia; anggotanya banyak berasal dari kalangan miskin kota (institutionalized riot system?); gemar melakukan vandalisme (berani menantang polisi).

Jamaah Islamiah (JI)

· Para ahli terorisme sering memandang JI sebagai bagian integral dari atau beroperasi di bawah komando Al-Qaedah. Sidney Jones (ICG) lebih memandang hubungan keduanya sebagai hubungan yang ditandai oleh “mutual benefit and parallel struggle” di mana JI tampil relatif otonom. Bubalo dan Fealy (2005) lebih condong ke pendapat Jones, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di bawah.

· Para pemimpin JI jelas memiliki kontak yang intensif dengan Osama dan pemimpin Al-Qaeda lainnya, khususnya antara akhir 1980-an dan awal 1990-an di Afghanistan. Yang paling jelas adalah Hambali, yang tidak saja memimpin JI, tapi juga berkonsultasi kepada para pemimpin Al-Qaeda. Juga Zulkarnaen, komandan sayap militer JI, dan Fathur Rahman al-Ghozi, ahli bom yang memiliki pengalaman luas di Afghanistan dan Filipina. Al-Qaeda juga mendanai serangan-serangan teroris JI, termasuk US$35,000 untuk pemboman Bali.

· Kaitan ideologis antara JI dan Al-Qaeda juga sangat jelas: konsepsi mereka mengenai jihad mengingatkan kita pada konsepsi `Azzam.

· Tapi “kandungan lokal” JI juga banyak. Modal jihad ada dalam sejarah Indonesia. JI adalah kelanjutan dari DI: Kartosuwiryo dianggap sebagai figur teladan, seorang syahid; Sugkar dan Baasyir menduduki posisi-posisi penting di DI pada 1980-an dan awal 1990-an; Sungkar memandang kemerdekaan Indonesia bukan 17 Agustus 1945, tapi 7 Agustus 1949, ketika NII diproklamasikan;komunitas DI adalah salah satu pusat rekrutmen JI; banyak veteran Afghanistan pergi ke Afghanistan pada 1980-an sebagai anggota DI, dan mereka hanya menjadi anggota JI belakangan, sekembalinya mereka ke Indonesia; kader-kader Di dilatih sebagai unit-unit tersendiri di Kamp Hudaibiyah milih JI di Mindanao dan instruktur-instruktur JI terus melatih kader-kader DI di Jawa; terjadi banyak kawin campur antara keluarga-keluarga JI dan DI, untuk mempererat tali silaturrahmi.

Kaitan Lokal dan Global: Bagaimana Dana dan Ideologi Disalurkan?

LIPIA

Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dianggap sebagai “the sperhead of Wahhabi influence” di Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia yang hingga tahun 1990-an dikenal “amat fleksibel” (famously relaxed) dalam praktik-praktik keislamannya (Burr and Collins 2006: 201). Konsekuensinya, seraya mengutip para kritikus Saudi Arabia, Burr dan Collins memandang Saudi Arabia sebagai “playing a surreptitious role in Indonesian society under the guise of providing ‘above-board funds for religious and educational purposes’ while it ‘quitely disbursed funds for militant Islamic groups’” (Burr and Collins, 2006: 201). Mereka juga mengutip seorang pengeritik pemerintah Saudi Arabia yang menyatakan bahwa “Saudi money has had a profound effect on extremist group, allowing some to keep going and inspiring others to start recruiting” (Burr and Collins, 2006: 201-202).

Yayasan Al Haramain

· Yayasan ini menandatangani nota kesepakatan dengan Departemen Agama Republik Indonesia pada 2002, yang memungkinkannya untuk mendanai lembaga-lembaga pendidikan. Namun, ketika sudah disetujui, mereka menggunakan dana yayasan itu untuk mendanai Jamaah Islamiyah (Burrr and Collins, 2006: 202).

· Agus Dwikarna: Pada Maret 2001 ia ditangkap di Bandara Internasional Manila, Filipina, karena membawa tas berisi C4 eksplosif; ia adalah operator Al-Qaeda dan wakil Yayasan Al Haramain di Makassar, di mana ia membangun kamp latihan teroris dan memimpin Laskar Jundullah. Pada Juni 2000, ia ikut dalam latihan yang diselenggarakan sel Al-Qaeda di Spanyol dan terus menjalin kontak dengan Mohamed Atta, yang diduga pemimpin para pembajak pesawat pada September 11. Bersama Omar Faruq (lihat di bawah), ia menjadi guide Ayman al-Zawahiri yang datang ke Indonesia dalam rangka “part of a wider strategy of shifting the base of Osama bin Laden’s terrorist operation from the Subcontinent to South East Asia” (Burr and Collins, 2006: 202).

· Omar al-Faruq: Pada April 2001, al-Faruq ditangkap di Indonesia. Ia mengakui bahwa sebuah cabang Yayasan Al Haramain bertanggungjawab atas operasi-operasi Al-Qaeda di wilayah ini dan bahwa “money was laundered through the foundation by donors from the Middle East” (Burr and Collins, 2006: 202).

· Pada 2003, atas tekanan AS, pemerintah Saudi Arabia memerintahkan Yayasan Al Haramain untuk menutup semua cabangnya di luar negeri, termasuk yang berada di Jakarta. Sekalipun resmi ditutup, kantor Jakarta tetap beroperasi dari sebuah kantor lebih sederhana di dekat kantor yang lama, di mana Yayasan melanjutkan pemberian supervisi bagi “the completion of the charity’s expensive new religious boarding school on the outskirt of Jakarta.” Di luar Jakarta, dana Saudi terus dialirkan lewat Darul Istiqamah Al-Haramain di Makassar dan dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah (Burr and Collins, 2006: 204).

· Pada 2004, US Treasury melaporkan bahwa kantor Al Haramain di Jakarta “either continuing to operate or [had] other plans to avoid these measures.” PBB juga melaporkan bahwa bantuan dana terus mengalir. Karenanya, US Treasury membekukan asset-asset enam kantor Al Haramain di luar negeri, termasuk di Jakarta, dan mendesak agar pemerintah Saudi Arabia menutup kantor utamanya di Saudi Arabia, sekali dan selamanya. Dalam pernyataan persnya (19 Februari 2004), US Treasury mengatakan: “The branches of Al Haramain that we have singled out today not only assist in the pursuit of death and destruction; they deceive countless people around the world to believe that they have helped spread good will and good works” (dikutip dalam Burr and Collins, 2006: 204). Dalam komentar baliknya, pemerintah Saudi mengatakan, jika AS dan PBB “thought al Haramain is doing something in Indonesia, then it is up to the government of Indonesia to take action, not Saudi Arabia” (dikutip dalam Burr and Collins, 2006: 204).

· “Whether by ignorance or design Saudi were certainly using their ‘charitable’ outreach to expand a Salafist jihadist influence throughout Southeast Asia” (Burr and Collins, 2006: 204).

1 Comment

  1. li said,

    August 1, 2007 at 6:28 am

    dari pada dana digunakan untuk menyakiti orang lain mendingan dana disalurkan untuk pendidikan anak usia dini yang saya kelola,karena selama ini saya pinjam pada rentenir akhirnya saya skak mat so mendingan bantu saya. InsyaAllah berpahala


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: